Connect with us

Events

Callkula Merilis Single Ketiga

Published

on

WWW.EKBIZZ.COM – “Berapa banyak manusia yang akhirnya tidak menjadi dirinya sendiri karena takut dianggap “negatif” oleh orang-orang yang melihatnya? Berapa banyak manusia yang tidak menilai seseorang dari apa yang ia lihat oleh kedua matanya? Dan berapa banyak manusia yang ingin merapikan pikirannya untuk memandang seseorang sebagai manusia seutuhnya?”

ADA sebuah ungkapan tersohor yang menyatakan bahwa, “Kita sebagai seorang manusia jangan pernah menilai seseorang dari luarnya, atau dari apa yang hanya mampu ditangkap oleh mata”. Saking masyhurnya kalimat bernada merdu tersebut, semua itu seakan telah menjadi hafalan di luar kepala, dan mampu dengan mudah dilafalkan tanpa harus berpikir terlebih dahulu saat mengungkapkannya. Keindahan selalu tersemat, seakan mampu mengubah seseorang yang mengutarakannya bak “manusia bijak”.

Kita ambil beberapa contoh saja dari hasil implementasi kalimat tersebut. Seseorang berpenampilan seram layaknya seorang “preman” belum tentu tidak memiliki banyak kebaikan di dalam dirinya. Seorang wanita dengan pakaian serba terbuka, belum tentu ia adalah seorang wanita murahan yang dapat dengan mudah dijelajahi tubuhnya oleh para pria hidung belang. Dan seorang yang berpenampilan layaknya seorang pemuka agama, belum tentu di dalam dirinya memiliki niatan baik untuk menyebarkan kebaikan kepada banyak orang.

Dari ungkapan tersebut dan beberapa contoh di atas, kita bisa memetik sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa seorang manusia sudah sepatutnya memandang orang-orang yang ada di sekitarnya sebagai seorang manusia, bukan dari apa yang ia kenakan maupun dari apa yang nampak. Manusia sepatutnya memiliki hak yang sama dan berhak mendapat apresiasi yang tinggi dari berbagai kebaikan yang ia miliki di dalam dirinya.

Namun yang terjadi malah justru kebalikannya. Apa yang seharusnya dilakukan seseorang dalam memandang manusia lainnya seakan tidak benar-benar dipahami dan tidak diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-harinya. Kebanyakan orang masih terjebak pada sebuah sudut pandang bahwa “Penampilan adalah gambaran diri seseorang”. Tak perlu jauh-jauh pergi ke negeri seberang, di Indonesia sendiri ungkapan bernada manis nan puitis tersebut masih belum benar-benar dipahami oleh akal dan hati nurani masyarakatnya.

Melihat fenomena tersebut, nampaknya telah membuat gusar hati para personel Callkula, sebuah band asal Yogyakarta yang telah terbentuk sejak tahun 2018 lalu. Dan keresahan tersebut akhirnya memicu mereka untuk menyampaikan hal itu ke dalam sebuah karya musik yang cantik nan apik. Hingga pada akhirnya, “Isyarat Hina” didaulat menjadi judul karya terbaru dari band yang beranggotakan Gilang (vokal & gitar), Alvinza (gitar), Adiyatma (kibor), Elvan (bass) dan Bagas (drum), sekaligus menjadi single ketiga dari mereka yang resmi dirilis pada hari ini, Senin (26/8/2019).

Gilang sebagai penulis lagu “Isyarat Hina” menurutkan, bahwa apa yang terdapat di dalam single ketiga dari bandnya ini merupakan fakta yang terjadi pada manusia saat ini dalam memandang lingkungan sekitarnya. Pada saat sebelumnya, ia bersama kawan-kawannya di Callkula telah melakukan proses observasi yang mampu menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa masih banyak masyarakat di negeri ini yang melihat orang lain dari apa yang nampak pada kemasan luarnya saja.

Salah satu contoh misalnya seperti seseorang yang mengenakan pakaian compang-camping tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam sebuah mall. Atau contoh lainnya adalah seseorang yang memiliki masa lalu yang buruk tidak mendapatkan ruang yang besar untuk mendapat apresiasi yang tinggi ketika ia berubah dan melakukan banyak kebaikan di lingkungannya.

“Apa yang salah dengan mereka yang nyaman berpakaian compang-camping dan ingin masuk ke dalam sebuah mall? Apa yang salah dari mereka yang melakukan banyak kebaikan pada lingkungannya, walau di masa lalu ia memiliki masa lalu yang buruk? Bagi kami, beberapa contoh yang terjadi di tengah masyarakat saat ini adalah sebuah bentuk diskriminasi yang dilakukan banyak orang untuk tidak memberikan kesempatan bagi seseorang, untuk mendapat apresiasi yang tinggi dari kebaikan yang bisa jadi tersembunyi di balik pakaian compang-campingnya, atau tersamarkan oleh masa lalu kelam yang pernah dilakukan seseorang,” pungkas Gilang.

Lanjut Rully (Manajer Callkula), di tengah kemajuan yang sedang terjadi saat ini, sudah seharusnya masyarakat tidak lagi memandang sesuatu dari satu sudut pandang yang ia kehendaki. Saat ini masyarakat seharusnya sudah memulai merapikan pikirannya untuk melihat sekitar dari berbagai sudut pandang, dan memberi apresiasi yang besar terhadap segala kebaikan yang dimiliki seseorang di dalam dirinya. Sudah bukan zamannya lagi seseorang mendapat perlakuan diskriminatif dari apa yang terlihat dari kulit luarnya, atau dari hal buruk pernah dilakukannya di masa silam.

“Setiap orang memiliki nyamannya sendiri dalam menampilkan dirinya, dan setiap orang memiliki masa lalu sendiri dalam hidupnya. Namun bukan berarti mereka tidak berhak mendapat hak yang sama untuk dipandang sebagai seorang manusia seutuhnya yang tentu akan selalu memiliki sisi baik di dalam dirinya,” papar Rully.

Melalui single “Isyarat Hina” ini, Callkula berharap karya mereka akan menjadi pemincut bagi banyak orang untuk merapikan pikiran mereka dalam mengambil sudut pandangnya melihat suatu hal. “Harapan kami, melalui single “Isyarat Hina” ini kami bisa membantu banyak orang untuk dapat merapikan pikiran banyak orang dalam memandang suatu hal, terutama ketika ia memandang orang lain sebagai seorang manusia,” tambah Rully.

Dalam penggarapan single “Isyarat Hina” ini sendiri, Callkula sendiri dibantu oleh Sasi Kirono yang bertindak sebagai produser. Dan “Isyarat Hina” sendiri saat ini sudah bisa disimak di berbagai platform dengar digital seperti Spotify, Joox, Itunes dan masih banyak lagi, juga dibisa disimak dalam bentuk video lirik yang bisa disaksikan di Youtuber Channel Official Callkula Music.

Events

Menelusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Kotagede

Published

on

By

Setelah cukup lama vakum, program Cerita di Kebon akhirnya kembali digelar dengan edisi yang lebih kaya dan mendalam. Kali ini, melalui tajuk “Niti Lampah Kotagede”, acara akan mengajak peserta menyusuri kawasan Cepuri sambil bercengkerama tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Kotagede.

Cerita di Kebon #3 ini bukan sekadar mengulang catatan sejarah lama. Melalui percakapan santai, peserta diajak melihat lebih dalam jejak pengaruh Mataram Islam, perubahan tata ruang, serta cara masyarakat Kotagede hidup berdampingan dengan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dibahas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan bagaimana Kotagede terus dijalani, diingat, dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat saat ini.
Acara ini akan menghadirkan tiga narasumber berkompeten:

M. Yaser Arafat
Ki Supriyadi Sapta
Madha Soentoro

Ketiganya akan berbagi perspektif berbeda tentang pengalaman ruang, sejarah, dan kehidupan masyarakat Kotagede yang terus tumbuh dan berkembang.
Cerita di Kebon #3 merupakan bagian dari rangkaian perayaan “Setahun Kembali ke Akar” — peringatan satu tahun perjalanan Peken Klangenan Kotagede.
Detail Acara:

Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Mei 2026
Waktu : 11.00 WIB
Tempat : Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede
Biaya : Gratis untuk umum

Acara ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Kotagede lebih dalam — baik warga setempat, pelajar, mahasiswa, maupun pecinta sejarah dan budaya. Datanglah dengan santai, siapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang penuh makna di tengah suasana kebun yang asri.

“Melalui Cerita di Kebon, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melihat Kotagede sebagai masa lalu, tapi juga sebagai ruang hidup yang terus bernapas hingga hari ini,” ujar panitia penyelenggara.

Jangan lewatkan momen langka ini. Mari datang, mendengar, dan ikut merawat ingatan serta warisan budaya Kotagede bersama.

Continue Reading

Events

Membaca Ulang Lahirnya Indonesia yang Inklusif dan Kritis

Published

on

By

Sejumlah akademisi, penulis, dan aktivis berkumpul dalam forum Dialog Republik: Lahirnya Negara Indonesia yang diselenggarakan di Ballroom University Club UGM, Kamis (30/4/2026).

Diskusi yang diprakarsai Forum 2045 bersama Dewan Guru Besar UGM, LAB45, Nalar Institute, dan Institut Harkat Negeri ini membahas sejarah sebagai pembacaan kritis terhadap pembentukan, ingatan, dan praktik republik Indonesia saat ini.

Para pembicara menekankan bahwa persoalan republik tidak hanya bersifat politik, melainkan juga menyangkut cara pengetahuan dan konstruksi sejarah dibangun.

Pinurba Parama Pratiyudha selaku Ketua Forum 2045 membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan ‘titik nol’ Indonesia yang melampaui kemerdekaan politik, mencakup pula kemerdekaan ekonomi, ekologi, dan epistemologi.

Ia menyoroti pentingnya memahami peristiwa tersebut secara menyeluruh, termasuk peran Ibu Fatmawati dalam menjahit Bendera Merah Putih yang sering terlupakan dari ingatan kolektif.

Sementara itu, Prof. Muhammad Baiquni, Ketua Dewan Guru Besar UGM, menekankan perlunya membangun masa depan bangsa dengan mengintegrasikan kecerdasan, nurani, dan kepedulian lingkungan. “Solidaritas dengan hati menjadi pilar agar Indonesia bisa bangkit,” ujarnya.

Dra. Jaleswari Pramodhawardani, Kepala LAB45, menyatakan bahwa proklamasi bukan peristiwa yang selesai, melainkan proses berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan dalam republik berasal dari rakyat dan harus dipertanggungjawabkan.

Mengutip Hannah Arendt, Jaleswari menegaskan bahwa kekuasaan lahir dari pluralitas, sementara kekerasan muncul saat kekuasaan kehilangan legitimasi. Ia menambahkan pentingnya menjaga ruang kritik sebagai mekanisme demokrasi.

Prof. Alimatul Qibtiyah dari UIN Sunan Kalijaga melengkapi dengan perspektif bahwa proklamasi melibatkan tindakan verbal, simbolik, dan struktural, serta menyerukan pembacaan yang lebih inklusif dengan memasukkan keadilan gender dan kelompok terpinggirkan.

Dosen Fisipol UGM Milda Longgeita Br. Pinem menyoroti kecenderungan sejarah yang hanya mengingat tindakan formal seperti pembacaan teks proklamasi, sementara mengabaikan kerja-kerja nyata yang mendukungnya, termasuk penjahitan bendera oleh perempuan.

“Teks menyatakan kemerdekaan, tetapi bendera yang dijahit membuat kemerdekaan menjadi tampak,” katanya.

Penulis Okky Madasari menambahkan bahwa pemaknaan proklamasi saat ini mengalami depolitisasi dan kekurangan keberanian politik. Ia menyoroti pelemahan demokrasi dan kebebasan berekspresi, serta mendesak agar proklamasi dimaknai kembali sebagai upaya mengembalikan kedaulatan rakyat.

Diskusi ditutup dengan kesepakatan para pembicara bahwa tantangan utama bukan kurangnya pengetahuan sejarah, melainkan bagaimana menghidupkan makna republik dalam kehidupan sehari-hari.

Jaleswari menekankan peran generasi muda untuk terus mengawal praktik bernegara. “Republik bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang harus terus diulang,” ujarnya. Forum ini menegaskan bahwa membaca ulang republik merupakan tindakan penting untuk menjaga nilai keadilan dan memperkuat masyarakat sipil dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia saat ini.

Continue Reading

Events

Warning Gen Z! Skill Menjahit & Masak Bisa Bikin Kamu Punya Side Hustle

Published

on

By

Pada Senin (6 April 2026), UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Bantul resmi membuka dua pelatihan Mobile Training Unit (MTU) yang super praktis: Menjahit di Wirokerten, Banguntapan, dan Tata Boga di Srimulyo, Piyungan.

Gak perlu nunggu lama atau biaya mahal. Program ini pure buat ningkatin kompetensi anak muda dan masyarakat supaya lebih mandiri, bisa buka usaha sampingan, bahkan jadi content creator fashion atau kuliner yang aesthetic di TikTok & Instagram.

Detail Pelatihan yang Wajib Dicatet:

Pelatihan MTU Menjahit
Tanggal: 7 April – 12 Mei 2026 (sekitar 5 minggu full action)
Tempat: Pusdiklat Mulia, Kepuh Kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul
Peserta: 16 orang (kelas intim, beneran hands-on)

Pelatihan MTU Tata Boga
Tanggal: 9 April – 7 Mei 2026
Tempat: Bangsal Pasca Panen Berkah Jaya, Jombor, Srimulyo, Piyungan, Bantul
Peserta: 16 orang

Pembukaan di Piyungan dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T., Panewu Piyungan, Kepala UPTD BLK Bantul, dan Lurah Srimartani. Sementara di Wirokerten, Bp. Agus Sofwan selaku Wakil Ketua Komisi D DPRD Bantul ikut hadir bareng Kepala Disnakertrans dan jajaran lainnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar belajar teori, tapi langsung skill aplikatif yang bisa dipakai buat menciptakan peluang usaha mandiri. “Kami ingin anak muda Bantul punya bekal nyata untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan desa,” ujar Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T. .

Kenapa Harus Ikutan?
Di era digital sekarang, skill menjahit bisa jadi modal bikin custom hoodie, hijab kekinian, atau bahkan brand fashion lokal. Sementara Tata Boga? Bisa langsung bikin konten mukbang, jualan catering aesthetic, atau buka kedai kopi-dessert yang hits di kalangan Gen Z.

Sekedar informasi, Pelatihan MTU merupakan program yang dilaksanakan berdasarkan pengajuan proposal langsung dari masyarakat atau kelompok masyarakat. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik dan keinginan warga dalam meningkatkan kompetensi keterampilan sesuai dengan permintaan yang diajukan.

Sementara itu, pelatihan untuk masyarakat umum yang tidak melalui proposal kelompok diselenggarakan melalui program pelatihan institusional. Pelatihan institusional tersebut direncanakan akan dimulai pada sekitar bulan Juni 2026. Materi pelatihan yang akan diberikan meliputi bidang administrasi, otomotif, serta teknisi handphone.

Info lebih lanjut tentang program bisa datang ke UPTD BLK Bantul di Jalan Jenderal Sudirman No.1, Babadan, Bantul, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul

Continue Reading

Trending