Home Events Merumuskan New Normal Dari Desa

Merumuskan New Normal Dari Desa

36
0
SHARE

Covid-19 atau Wabah Virus Corona selain membuat semua orang terancam jiwanya juga merubah tata kehidupan dan relasi sosial semua orang, termasuk kehidupan warga desa di seluruh Indonesia. Desa ‘dipaksa’ berubah menuju tatanan baru alias New Normal, permasalahan yang muncul adalah tatanan seperti apakah yang harus terjadi pada kehidupan desa di era New Normal.

Hal itu menjadi bahasan menarik dalam Konggres Kebudayaan Desa Di Kampoeng Mataraman, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Kamis, 25 Juni 2020, menghadirkan narasumber: Ryan Sugiyarto selaku Steering Committee, Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi, Peneliti UGM AB Winata serta FX Rudi Gunawan, Budayawan dan Penulis.

Steering Committee Konggres Kebudayaan Desa -KKD, Ryan Sugiarto menyatakan, perubahan yang saat ini terjadi pada seluruh aspek kehidupan sosial masyarakat akibat Pandemi Covid-19 jelas butuh respon yang sistematis dan terstruktur sehingga tidak latah memaknai istilah New Normal. “Inilah urgensi dari Konggres Kebudayaan Desa yakni mendorong dan menyusun tatanan arah Indonesia Baru dari Desa,” ujarnya.

KKD berlangsung 1-10 Juli 2020, membahas 20 tema mewakili berbagai tema kehidupan yang saat ini mengalami perubahan akibat wabah Covid-19. Tema-tema tersebut dibedah dalam bentuk Webinar atau Seminar Online dengan mengundang 90 narasumber dari berbagai kalangan seperti akademisi, birokrat, tokoh muda, pegiat desa dan seniman.

Para narasumber itu membedah berbagai tema dengan berbasis pada riset yang telah digelar Panitia KKD. Riset dilakukan melalui Kuesioner Online terhadap 10 ribu responden dari berbagai lapisan masyarakat, wilayah dan latar belakang. Kuesioner berisi beragam gambaran situasi sekaligus harapan terkait wabah Virus Corona.

Jawaban dari Kuesioner kemudian menjadi sumber gagasan materi diskusi yang akhirnya menjadi bahan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa -RPJMDes.

Tak hanya melalui Webinar dan Kuesioner, KKD juga menjaring gagasan tatanan Indonesia baru melalui Call for Paper yakni ruang gagasan bagi semua orang yang tertarik menuangkan pikiran dan gagasannya mengenai tatanan Indonesia Baru. Seluruh materi yang dibahas dalam acara tersebut dibukukan sesuai dengan tematik bahasan.

“Satu hari ada dua sesi Webinar, ada 90 narasumber, pakar-pakar dari berbagai wacana. Setelah Webinar ada Festival Kebudayaan Desa-desa Nusantara yang digelar secara unik sebagai bentuk perayaan dan keceriaan Kongres Kebudayaan Desa,” ungkap Ryan.

Penutup Acara berupa Deklarasi Tatanan Indonesia Bari Dari Desa pada 15 Agustus 2020, di Istana Negara Jakarta, yang rencananya dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Adapun Out-Put KKD yakni,

1. Tersusunnya Dokumen RPJMDes yang bisa digunakan sebagain acuan untuk seluruh desa di seluruh Nusantara.

2. Laporan Hasil Riset pada Juni-Juli 2020.

3. Menerbitkan 20-22 judul buku dari 20 tema yang dibahas KKD.

4. Menerbitkan buku Strategi Pemajuan Desa-desa di Nusantara.

Dalam kesempatan itu Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi menyatakan, realitas yang terjadi akibat Wabah Corona adalah terjadinya banyak perubahan dalam struktur kehidupan masyarakat. “Wabah ini mendekonstruksi semua gagasan tanpa teriakan revolusi. Salahsatunya, ada kesan tatanan yang selama ini didominasi struktur yang ada, kini muncul berbagai tatanan alternatif,” katanya.

Pada saat yang sama, Desa membuktikan diri sebagai kekuatan yang paling mampu bertahan di tengah gempuran krisis yang menghantam semua lini. Desa, ditopang posisi strategisnya yakni kekuatan Hardware alias Sumber Daya Manusia, bentang alam dan sebagainya, juga kekuatan Software berupa budaya dan tata nilai kehidupan sosial, terbukti mampu bertahan. “Desa dengan kekuatan budayanya terbukti tangguh bertahan di tengah gempuran Virus Corona,” ujar Wahyudi Anggoro Hadi lebih lanjut.

Corona juga telah mengakibatkan perubahan juga pada dunia pendidikan. Diliburkannya sekolah juga membuktikan bahwa institusi pendidikan formal tidaklah penting lagi, semua dikembalikan pada keluarga. Di sektor ekonomi, situasi krisis menunjukkan bahwa puncak relasi ekonomi adalah kerjasama. Wabah Virus Corona juga meruntuhkan berbagai kekuatan yang selama ini hegemoni, sekarang ini pula distribusi informasi menjadi merata dan cepat.

“Jika ini diangkat menjadi visi bersama yang melahirkan tatanan bersama, akan menjadi sesuatu yang kontekstual. Gotong-royong terbukti menjadi pranata sosial yang mampu mengatur relasi antarmanusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Penciptanya, maka seluruh materi yang dibahas dan didiskusikan dalam hajatan ini diharapkan menjadi keluaran yang mendapatkan legitimasi politik dan sosial untuk mendorong berbagai perubahan ke arah tatanan Indonesia Baru,” tutur Kepala Desa Panggungharjo.

Targetnya, berbagai gagasan yang berangkat dari Desa, masyarakat adat dan para narasumber dari berbagai ruang pemikiran ditetapkan menjadi visi bersama, membalik pola-pola perencanaan yang sudah dari dulu didominasi oleh elit-elit pemerintahan di Jakarta. Jadi, beberapa output yang menjadi target adalah Visi Misi tentang Indonesia sehingga lebih implementatif dan menjadi panduan penyusunan kebijakan desa, serta menjadi Milestone atau tahapan-tahapan yang bisa terbaca dengan jelas oleh Pemerintah Desa dalam menyusun perencanaan pembangunan desa.

AB Winata, salahsatu narasumber menyatakan, Wabah Virus Corona bisa juga dimaknai sebagai momentum bagi berseminya kembali berbagai formulasi baru untuk Indonesia.” Ini adalah momen untuk menyemai kembali benih-benih baru sehingga kita bisa membentuk tata peradaban baru Indonesia dan menjawab seperi apa sebenarnya ke-Indonesiaan kita,” katanya.

Sementara itu, FX Rudi Gunawan menyatakan, Kongres Kebudayaan Desa ternyata menciptakan perdebatan yang menarik. KKD memperjelas makna kebudayaan Indonesia, dan memberi arah bagi perubahan yang sekarang ini sedang terjadi menuju arah yang lebih jelas. “Dari berbagai pertemuan, saya banyak mendapatkan pertanyaan, kenapa ya kok yang menggelar Kongres malah Desa dan bukan Kota, Ternyata Desa lebih memiliki orientasi yang jelas dalam mengelola perubahan,” jelasnya.