Connect with us

Events

Sarihusada Dukung Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Published

on

PT Sarihusada Generasi Mahardhika , bagian dari Grup Danone yang ada di Indonesia, hari ini menggelar Napak Tilas Media 2018 di kota Yogyakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali cerita tentang program-program CSR yang telah dilakukan Sarihusada di berbagai wilayah untuk mendukung kemandirian masyarakat dan kemandirian pangan di Yogyakarta.

Selain mengunjungi Rumah Tempe di Desa Geneng, Prambanan, Klaten dan Program Bunda Mengajar di Kampung Badran, peserta juga diajak berdiskusi dengan Ketua Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Dr. Krisdyatmiko, S.Sos, M.Si. dan Head of Communication Danone Indonesia, Arif Mujahidin.

Sarihusada mengoperasikan fasilitas produksi di kawasan Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah dan kini menaungi lebih dari 1.000 karyawan di seluruh penjuru Indonesia. Sarihusada lahir di Yogyakarta dan memiliki sejarah panjang. Menjelang pertengahan dekade 50-an, Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) berinisiatif mengembangkan program khusus guna menunjang kecukupan protein nasional.

Hal tersebut direalisasikan tahun 1954 dengan pendirian NV Saridele. Arif Mujahidin menjelaskan, hingga saat ini, misi Sarihusada tetap sama yaitu berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi atas malnutrisi dan masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia. “Misi tersebut salah satunya diwujudkan melalui inisiatif-inisiatif dan edukasi gizi serta kesehatan diberbagai wilayah dengan melibatkan para pakar, ibu dan anak dalam program pemberdayaan yang berkelanjutan, jelas Arif.

Sarihusada menetapkan tiga landasan utama dalam membangun strategi pelaksanaan program CSR jangka panjang, yaitu bisnis inti perusahaan sebagai penyedia produk bergizi, mempertimbangkan rencana pembangunan pemerintah dan potensi kerja sama dengan beragam kelompok pemangku kepentingan. Ketiga landasan itu mengarahkan program CSR pada tiga pilar yaitu gizi dan kesehatan, pendidikan, sertapemberdayaan ekonomi.. Kemudian tiga pilar itu menghasilkan lima kelompok program, yaitu gizi dan kesehatan, pendidikan ibu dan anak, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan kepedulian bencana dan kondisi khusus.

Sebagai bagian dari Danone yang ada di Indonesia, Sarihusada juga bekerja sama dengan Danone Ecosysteme Fund melaksanakan berbagai inisiatif sosial. Danone Ecosysteme Fund merupakan dana untuk memperkuat ekosistem Danone dan menciptakan nilai sosial dan ekonomi melalui kemitraan inklusif yang terdiri dari 5 lingkup program: sourcing, territory, micro-distribution, caring service, recycling.

Menurut Endah Prasetioningtias, Public Affairs & Internal Communication Manager Sarihusada, pelaksanaan program CSR, Sarihusada menggunakan strategi pendekatan Community Development, Metode Community Development dipilih untuk menjawab kebutuhan program jangka panjang, berorientasi kepada hasil dan dampak yang baik serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk memberdayakan dirinya sendiri.

“Dengan menggunakan prinsip to help people to help themselves, maka program CSR Community Development diarahkan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat untuk mencapai hasil yaitu kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan, jelas Endah.

Program CSR yang telah berhasil dijalankan oleh PT Sarihusada sejak 2010 dan menyentuh sekitar 1,095 jiwa penerima manfaat adalah Rumah Srikandi. Program ini bertujuan untuk menghadirkan sebuah wadah pendidikan yang dapat melayani kebutuhan pendidikan anak-anak usia dini, meningkatkan kesadaran dari para orang tua akan pentingnya menjaga kesehatan dan gizi bagi para anak-anaknya melalui program kesehatan, pengelolaan berbagai program kesehatan dan pendidikan ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang dapat berjalan intensif sesuai standar operasional.

Rumah Tempe Srikandi Geneng juga menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan PT Sarihusada dalam menjalankan program CSR di Klaten. Program pembangunan masyarakat “Tempe Untuk Rakyat”, ini adalah sebuah program pembangunan industri mikro desa berbasis peningkatan potensi pangan lokal di wilayah pabrik Sarihusada Prambanan, tepatnya di Desa Geneng, Kecamatan Prambanan, Klaten.

Dalam perjalanannya, program ini mengikutsertakan beberapa pihak seperti Forum Tempe Indonesia, Pemerintah Desa Geneng dan TP PKK Desa Geneng untuk turut berperan dan berkolaborasi mewujudkan program yang berorientasi kepada masyarakat. Dalam beberapa tahun ke depan penerima manfaat program tempe mencapai lebih dari 1000 jiwa, baik dari segi produsen maupun konsumen.

Dr. Krisdyatmiko, S.Sos, M.Si mengatakan, program CSR merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konsep CSR akan berdampak positif bagi masyarakat tergantung pada orientasi dan kapasitas lembaga dan dukungan berbagai pihak, terutama pemerintah.

“Intinya, manfaat CSR bagi masyarakat adalah bagaimana suatu konsep tersebut dapat mengembangkan diri dan usahanya, sehingga tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas tercapai secara mandiri dan berkesinambungan,” ujar Krisdyatmiko.

Sarihusada tidak pernah lepas dari keterlibatan dalam menjalani komitmen program tanggung jawab sosial. Setiap program tanggung jawab sosial yang dilakukan selalu dirancang agar dapat berkelanjutan dan sesuai dengan misi sosial perusahaan. Kegiatan CSR Sarihusada difokuskan kepada 5 aspek, yaitu di bidang kesehatan & gizi, pendidikan anak, pemberdayaan ekonomi, bantuan bencana dan lingkungan.

Events

Menelusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Kotagede

Published

on

By

Setelah cukup lama vakum, program Cerita di Kebon akhirnya kembali digelar dengan edisi yang lebih kaya dan mendalam. Kali ini, melalui tajuk “Niti Lampah Kotagede”, acara akan mengajak peserta menyusuri kawasan Cepuri sambil bercengkerama tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Kotagede.

Cerita di Kebon #3 ini bukan sekadar mengulang catatan sejarah lama. Melalui percakapan santai, peserta diajak melihat lebih dalam jejak pengaruh Mataram Islam, perubahan tata ruang, serta cara masyarakat Kotagede hidup berdampingan dengan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dibahas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan bagaimana Kotagede terus dijalani, diingat, dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat saat ini.
Acara ini akan menghadirkan tiga narasumber berkompeten:

M. Yaser Arafat
Ki Supriyadi Sapta
Madha Soentoro

Ketiganya akan berbagi perspektif berbeda tentang pengalaman ruang, sejarah, dan kehidupan masyarakat Kotagede yang terus tumbuh dan berkembang.
Cerita di Kebon #3 merupakan bagian dari rangkaian perayaan “Setahun Kembali ke Akar” — peringatan satu tahun perjalanan Peken Klangenan Kotagede.
Detail Acara:

Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Mei 2026
Waktu : 11.00 WIB
Tempat : Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede
Biaya : Gratis untuk umum

Acara ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Kotagede lebih dalam — baik warga setempat, pelajar, mahasiswa, maupun pecinta sejarah dan budaya. Datanglah dengan santai, siapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang penuh makna di tengah suasana kebun yang asri.

“Melalui Cerita di Kebon, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melihat Kotagede sebagai masa lalu, tapi juga sebagai ruang hidup yang terus bernapas hingga hari ini,” ujar panitia penyelenggara.

Jangan lewatkan momen langka ini. Mari datang, mendengar, dan ikut merawat ingatan serta warisan budaya Kotagede bersama.

Continue Reading

Events

Membaca Ulang Lahirnya Indonesia yang Inklusif dan Kritis

Published

on

By

Sejumlah akademisi, penulis, dan aktivis berkumpul dalam forum Dialog Republik: Lahirnya Negara Indonesia yang diselenggarakan di Ballroom University Club UGM, Kamis (30/4/2026).

Diskusi yang diprakarsai Forum 2045 bersama Dewan Guru Besar UGM, LAB45, Nalar Institute, dan Institut Harkat Negeri ini membahas sejarah sebagai pembacaan kritis terhadap pembentukan, ingatan, dan praktik republik Indonesia saat ini.

Para pembicara menekankan bahwa persoalan republik tidak hanya bersifat politik, melainkan juga menyangkut cara pengetahuan dan konstruksi sejarah dibangun.

Pinurba Parama Pratiyudha selaku Ketua Forum 2045 membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan ‘titik nol’ Indonesia yang melampaui kemerdekaan politik, mencakup pula kemerdekaan ekonomi, ekologi, dan epistemologi.

Ia menyoroti pentingnya memahami peristiwa tersebut secara menyeluruh, termasuk peran Ibu Fatmawati dalam menjahit Bendera Merah Putih yang sering terlupakan dari ingatan kolektif.

Sementara itu, Prof. Muhammad Baiquni, Ketua Dewan Guru Besar UGM, menekankan perlunya membangun masa depan bangsa dengan mengintegrasikan kecerdasan, nurani, dan kepedulian lingkungan. “Solidaritas dengan hati menjadi pilar agar Indonesia bisa bangkit,” ujarnya.

Dra. Jaleswari Pramodhawardani, Kepala LAB45, menyatakan bahwa proklamasi bukan peristiwa yang selesai, melainkan proses berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan dalam republik berasal dari rakyat dan harus dipertanggungjawabkan.

Mengutip Hannah Arendt, Jaleswari menegaskan bahwa kekuasaan lahir dari pluralitas, sementara kekerasan muncul saat kekuasaan kehilangan legitimasi. Ia menambahkan pentingnya menjaga ruang kritik sebagai mekanisme demokrasi.

Prof. Alimatul Qibtiyah dari UIN Sunan Kalijaga melengkapi dengan perspektif bahwa proklamasi melibatkan tindakan verbal, simbolik, dan struktural, serta menyerukan pembacaan yang lebih inklusif dengan memasukkan keadilan gender dan kelompok terpinggirkan.

Dosen Fisipol UGM Milda Longgeita Br. Pinem menyoroti kecenderungan sejarah yang hanya mengingat tindakan formal seperti pembacaan teks proklamasi, sementara mengabaikan kerja-kerja nyata yang mendukungnya, termasuk penjahitan bendera oleh perempuan.

“Teks menyatakan kemerdekaan, tetapi bendera yang dijahit membuat kemerdekaan menjadi tampak,” katanya.

Penulis Okky Madasari menambahkan bahwa pemaknaan proklamasi saat ini mengalami depolitisasi dan kekurangan keberanian politik. Ia menyoroti pelemahan demokrasi dan kebebasan berekspresi, serta mendesak agar proklamasi dimaknai kembali sebagai upaya mengembalikan kedaulatan rakyat.

Diskusi ditutup dengan kesepakatan para pembicara bahwa tantangan utama bukan kurangnya pengetahuan sejarah, melainkan bagaimana menghidupkan makna republik dalam kehidupan sehari-hari.

Jaleswari menekankan peran generasi muda untuk terus mengawal praktik bernegara. “Republik bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang harus terus diulang,” ujarnya. Forum ini menegaskan bahwa membaca ulang republik merupakan tindakan penting untuk menjaga nilai keadilan dan memperkuat masyarakat sipil dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia saat ini.

Continue Reading

Events

Warning Gen Z! Skill Menjahit & Masak Bisa Bikin Kamu Punya Side Hustle

Published

on

By

Pada Senin (6 April 2026), UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Bantul resmi membuka dua pelatihan Mobile Training Unit (MTU) yang super praktis: Menjahit di Wirokerten, Banguntapan, dan Tata Boga di Srimulyo, Piyungan.

Gak perlu nunggu lama atau biaya mahal. Program ini pure buat ningkatin kompetensi anak muda dan masyarakat supaya lebih mandiri, bisa buka usaha sampingan, bahkan jadi content creator fashion atau kuliner yang aesthetic di TikTok & Instagram.

Detail Pelatihan yang Wajib Dicatet:

Pelatihan MTU Menjahit
Tanggal: 7 April – 12 Mei 2026 (sekitar 5 minggu full action)
Tempat: Pusdiklat Mulia, Kepuh Kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul
Peserta: 16 orang (kelas intim, beneran hands-on)

Pelatihan MTU Tata Boga
Tanggal: 9 April – 7 Mei 2026
Tempat: Bangsal Pasca Panen Berkah Jaya, Jombor, Srimulyo, Piyungan, Bantul
Peserta: 16 orang

Pembukaan di Piyungan dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T., Panewu Piyungan, Kepala UPTD BLK Bantul, dan Lurah Srimartani. Sementara di Wirokerten, Bp. Agus Sofwan selaku Wakil Ketua Komisi D DPRD Bantul ikut hadir bareng Kepala Disnakertrans dan jajaran lainnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar belajar teori, tapi langsung skill aplikatif yang bisa dipakai buat menciptakan peluang usaha mandiri. “Kami ingin anak muda Bantul punya bekal nyata untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan desa,” ujar Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T. .

Kenapa Harus Ikutan?
Di era digital sekarang, skill menjahit bisa jadi modal bikin custom hoodie, hijab kekinian, atau bahkan brand fashion lokal. Sementara Tata Boga? Bisa langsung bikin konten mukbang, jualan catering aesthetic, atau buka kedai kopi-dessert yang hits di kalangan Gen Z.

Sekedar informasi, Pelatihan MTU merupakan program yang dilaksanakan berdasarkan pengajuan proposal langsung dari masyarakat atau kelompok masyarakat. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik dan keinginan warga dalam meningkatkan kompetensi keterampilan sesuai dengan permintaan yang diajukan.

Sementara itu, pelatihan untuk masyarakat umum yang tidak melalui proposal kelompok diselenggarakan melalui program pelatihan institusional. Pelatihan institusional tersebut direncanakan akan dimulai pada sekitar bulan Juni 2026. Materi pelatihan yang akan diberikan meliputi bidang administrasi, otomotif, serta teknisi handphone.

Info lebih lanjut tentang program bisa datang ke UPTD BLK Bantul di Jalan Jenderal Sudirman No.1, Babadan, Bantul, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul

Continue Reading

Trending