Connect with us

Events

Lindungi Data Pribadi dan Privasi, Jogja Cyber Security Forum 2026 Siap Digelar di UAJY

Published

on

Pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa kemudahan sekaligus potensi ancaman keamanan digital yang semakin kompleks. Menyikapi maraknya kasus kejahatan siber seperti penipuan digital, pencurian identitas, hingga manipulasi media berbasis AI (deepfake), Profesional dan Usahawan Katolik (PUKAT) D.I. Yogyakarta akan menggelar forum edukasi publik bertajuk Jogja Cyber Security Forum 2026. Acara ini mengusung tema “Cerdas di Dunia Digital, Aman dari Ancaman Siber: Melindungi Data, Menjaga Privasi, Membangun Kepercayaan”.

Kegiatan skala besar yang menargetkan 1.000 peserta ini dirancang untuk membekali masyarakat umum, mahasiswa, akademisi, hingga pelaku UMKM dengan pemahaman praktis seputar perlindungan privasi data dan mitigasi risiko siber. Forum edukasi ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 14 November 2026, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, berlokasi di Student Center Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Jl. Babarsari No. 21, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Hadir sebagai narasumber utama dalam forum ini adalah Mr. Bert (@realmrbert), seorang Analis Keamanan Siber sekaligus Pengembang Teknologi AI untuk Pencegahan Penipuan. Dalam sesi pemaparan interaktif dan live demo, Mr. Bert akan membedah secara langsung anatomi kejahatan siber modern, mulai dari manipulasi M-Banking, pembajakan WhatsApp, pencurian kode OTP, hingga modus rekayasa media berbasis AI (deepfake) serta teknik verifikasi keaslian informasi digital.

Rangkaian acara disusun secara komprehensif yang mencakup Seminar Edukasi, Pemaparan Materi, Live Demo Kasus Siber, serta Diskusi Interaktif & Tanya Jawab bersama peserta. Selain mengangkat topik pencegahan fraud dan penipuan digital untuk individu, acara ini juga menelaah pentingnya keamanan siber bagi sektor bisnis dan UMKM guna menjaga kerahasiaan data pelanggan serta membangun kepercayaan konsumen di era digital.

Melalui pelaksanaan Jogja Cyber Security Forum 2026, PUKAT DIY berharap dapat memperkuat ekosistem digital yang aman dan terpercaya melalui kolaborasi lintas sektor antara praktisi IT, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat luas. Pembekalan ini diharapkan mampu mendorong masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya untuk semakin bijak serta waspada dalam beraktivitas di ruang siber.

Panitia membuka pendaftaran bagi peserta dari berbagai kalangan dengan empat kategori tiket masuk (HTM), yaitu VVIP (Rp 300.000,-), VIP (Rp 200.000,-), Umum (Rp 100.000,-), dan Mahasiswa (Rp 50.000,-). Tiket dapat dipesan secara daring untuk mengamankan kuota tempat duduk sebelum pelaksanaan acara.

Tata Cara Pendaftaran & Kontak Informasi:

Kunjungi tautan resmi pendaftaran di https://linktr.ee/PUKAT_JogjaCyberSecurity2026 atau melalui situs pendaftaran panitia https://pukatdiy.or.id/jcsf2026.

Pilih kategori tiket (VVIP, VIP, Umum, atau Mahasiswa), lalu isi data diri lengkap sesuai formulir yang tersedia.

Lakukan pembayaran sesuai petunjuk ke rekening konfirmasi Panitia PUKAT DIY.

Simpan e-tiket / bukti pendaftaran untuk ditunjukkan saat registrasi ulang di venue acara.

Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, dan konfirmasi pendaftaran, silakan hubungi Customer Service Panitia (Sie Kepesertaan PUKAT DIY) di nomor WhatsApp: +62 812-3456-7890 (Eko / Andre) atau email: info@pukatdiy.or.id.

Events

Simon Abimanyu, Kontingen DIY Raih Dalang Mumpuni

Published

on

By

Ajang Festival Dalang Anak Nasional 2026 resmi ditutup pada Rabu (4/11/2026) malam di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta Timur. Setelah berlangsung selama tiga hari (2–4 November 2026), kompetisi yang diikuti 29 seniman cilik dari 22 provinsi ini mengumumkan 11 penerima penghargaan.

Dewan juri yang diketuai Dewanto Sukistono menetapkan pemenang untuk Kelompok A (usia hingga 11 tahun), Kelompok B (usia 12–15 tahun), serta satu kategori khusus Dalang Mumpuni. Seluruh juara berhak membawa pulang piagam, plakat, dan dana stimulan produksi.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, yang hadir dalam acara penutupan menyampaikan harapannya agar ajang ini menjadi pemicu lahirnya regenerasi seniman wayang di Indonesia.

“Saya berharap festival ini melahirkan dalang-dalang muda yang kelak menjadi maestro dan pelestari kebudayaan. Mari kita jaga agar tradisi pedalangan terus berkembang dan diwariskan lintas generasi,” ujar Fadli Zon.

Daftar Pemenang Festival Dalang Anak Nasional 2026

Kelompok A (Maksimal 11 Tahun)

  1. Juara 1: Arsenio Muttaqien Zulkarnain (Jawa Timur) – Wayang Kulit Surakarta (Narayana)
  2. Juara 2: Anang Purbo Carito (Jawa Tengah) – Wayang Golek Cepak (Raden Jaka Bahu)
  3. Juara 3: Raesha Nareswara Wijaya (DKI Jakarta) – Wayang Kulit Surakarta (Sumantri Kridha)
  4. Terbaik 4: Altan Muttaqi Sasmita (Banten) – Wayang Golek Purwa (Hanoman Duta)
  5. Terbaik 5: Abiyyu Rasendriya Widitomo (Jawa Tengah) – Wayang Kulit Banyumas (Sumantri Ngenger)

Kelompok B (Usia 12–15 Tahun)

  1. Juara 1: Rizqi Wahyu Rohman (Banten) – Wayang Golek Purwa (Jaya Perbangsa)
  2. Juara 2: Kharisma Marantika Suhana (Jawa Barat) – Wayang Golek Purwa (Anoman Obong)
  3. Juara 3: Kanajalu Rahagi Sakha (DI Yogyakarta) – Wayang Golek Menak (Iman Suwangsa Takon Bapa)
  4. Terbaik 4: Egi Ferdiansyah Putra (Jawa Tengah) – Wayang Kulit Surakarta (Sang Gandamana)
  5. Terbaik 5: Kikis Danurejo Aji Pinatih (Jawa Timur) – Wayang Kulit Jawatimuran (Ijole Banyu Susu)

Penghargaan Dalang Mumpuni

  • Simon Abimanyu (DI Yogyakarta) – Wayang Kulit Yogyakarta (Mahendra Puja Langit)
Continue Reading

Events

Volume Sampah Meningkat, Pengangkutan di Pasar Kranggan Direncanakan Tiga Kali Sebulan

Foto dari Laman www.warta.jogjakota.go.id

Published

on

By

Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan peningkatan frekuensi pengangkutan sampah di Pasar Kranggan dari dua menjadi tiga kali dalam sebulan. Rencana tersebut dilakukan untuk mengatasi bertambahnya volume sampah sekaligus mengantisipasi penyumbatan saluran air saat musim hujan.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyampaikan hal itu ketika meninjau pengelolaan sampah di Pasar Kranggan, Jumat (30/10). Ia meminta kebersihan seluruh pasar di Kota Yogyakarta mendapat perhatian, terutama selokan dan drainase, agar aliran air tidak terganggu ketika hujan turun.

Hasto mengatakan penumpukan sampah yang sebelumnya terjadi di Pasar Kranggan telah ditangani. Meski kondisinya sudah membaik, ia menekankan perlunya pengangkutan secara rutin dan pemeliharaan saluran air. “Alhamdulillah sudah diperbaiki, sudah bagus. Tinggal nanti dirutinkan pengambilannya, terus selokannya jangan sampai kotor. Pasar itu sumber sampah juga karena banyaknya aktivitas,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Veronica Ambar Ismuwardani menjelaskan, penambahan jadwal pengangkutan direncanakan setelah meningkatnya volume sampah memicu keluhan. Dinas Perdagangan telah berkoordinasi dengan pedagang untuk menyesuaikan frekuensi pengangkutan. “Selama ini di Kranggan itu baru sebulan dua kali. Ternyata sekarang debitnya meningkat sehingga ada keluhan juga. Kemarin sudah koordinasi dengan pedagang, sebulan menjadi tiga kali rencananya, supaya tidak menimbulkan dampak dan tidak menimbulkan luapan,” jelasnya.

Menurut Ambar, pengelolaan sampah pasar menjadi tanggung jawab Dinas Perdagangan dengan melibatkan para pedagang. Sampah dihimpun di lokasi yang telah ditetapkan, sementara penggunaan tempat sampah yang jumlahnya terbatas dioptimalkan. Penyediaan wadah sampah di sejumlah titik juga dilakukan untuk mengendalikan volume sampah dan mengurangi titik tempat pembuangan sementara.

Selain Kranggan, pasar yang menghasilkan sampah basah dalam jumlah relatif besar adalah Giwangan, Beringharjo, dan Ngasem. Untuk menanganinya, Dinas Perdagangan bekerja sama dengan pedagang dan Dinas Lingkungan Hidup, termasuk melibatkan mitra yang dapat mengambil serta memanfaatkan sampah organik, seperti peternak.

Upaya pengurangan sampah turut dilakukan melalui edukasi pemilahan kepada pedagang sejak 2023. Ambar menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjaga kebersihan karena sampah di pasar tidak seluruhnya berasal dari kegiatan perdagangan. Masyarakat yang membuang sampah ketika berkunjung juga menambah volume sampah dan beban pengelolaan Dinas Perdagangan.

Continue Reading

Events

Borobudur Bukan Sekadar Spot Foto, Nilai Budayanya Juga Perlu Dijaga

Published

on

By

Yogyakarta (26 Okt 2026) – Akses menuju Borobudur semakin mudah, tetapi apakah masyarakat dan wisatawan juga semakin memahami nilai budayanya? Pertanyaan ini menjadi sorotan Diskusi Budaya Ruwat Rawat Borobudur 2026 yang digagas Komunitas Brayat Panangkaran. Berdasarkan kerangka acuan kegiatan, forum tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin (26/10/2026) di Mandira Baruga Purawisata, Yogyakarta, sebagai bagian dari perjalanan menuju 24 tahun Ruwat Rawat Borobudur.

Mengangkat tema “Menelisik Wadi Kang Sinengker”, diskusi ini mengajak publik melihat Borobudur lebih dari sekadar destinasi wisata atau tempat berburu foto. Ada tradisi, pengetahuan lokal, ingatan bersama, dan kehidupan masyarakat yang ikut membentuk kawasan tersebut. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mempercepat perjalanan wisatawan, tetapi juga perlu memperkuat hubungan dengan budaya setempat.

Gagasan diskusi salah satunya berangkat dari tulisan Sucoro Setrodiharjo tentang Arca Mbah Belet yang tampak tidak utuh atau seolah belum selesai. Dalam kerangka kegiatan, kondisi itu menjadi pengingat bahwa sesuatu yang terlihat kurang sempurna belum tentu harus diubah. Pesannya relevan dengan pelestarian budaya: tidak semua tradisi perlu dipoles agar mengikuti selera zaman.

Forum ini juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah perubahan kawasan. Warga diharapkan tidak hanya menjadi penerima dampak pembangunan atau pelengkap destinasi wisata, tetapi ikut memahami dan menjaga warisan budayanya. “Bagaimana pembangunan dapat berjalan tanpa memutus akar budaya?” menjadi salah satu pertanyaan yang diajukan dalam kerangka diskusi.

Melalui pertemuan lintas bidang ini, panitia menargetkan lahirnya “Catatan Kebudayaan Yogya–Borobudur” sebagai bahan pemikiran bagi pengelolaan pariwisata berbasis budaya. Intinya, Borobudur sebagai living monument atau monumen hidup tidak cukup dirawat bangunannya saja. Nilai dan tradisi di sekitarnya juga perlu dipahami serta diteruskan agar tetap bermakna bagi generasi muda.

Continue Reading

Trending