Connect with us

Perbankan

Dampak Pandemi, Kota Yogyakarta Memikul Beban Paling Berat

Published

on

Sebuah Tulisan Karya Ifah Rofiqoh – Mahasiswi Ilmu Manajemen UNJ

Wabah Covid-19 merupakan bencana yang tidak biasa. Kondisi pandemi ini membuat ketimpangan di daerah perkotaan meningkat signifikan, sedangkan ketimpangan di pedesaan relatif stabil. Pandemi memaksa kita untuk mengurangi aktivitas ekonomi dengan adanya pembatasan-pembatasan yang telah diatur oleh pemerintah. Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan virus Covid-19. Pandemi COVID-19 berdampak besar pada perekonomin Daerah Istimewa Yogyakarta. Perekonomian DIY anjlok dan menjadi yang terendah di Jawa. Padahal sejak 2017, pertumbuhan ekonomi di DIY selalu di atas rata-rata nasional. Pada 2019 lalu, pertumbuhan ekonomi DIY sempat menjadi yang tertinggi se-Jawa.

Untuk mengatasi pertumbuhan ekonomi yang negatif, serapan pasar perlu ditingkatkan sehingga akan membantu menggerakan pertumbuhan ekonomi khususnya daya beli atau konsumsi masyarakat supaya terjadi perputaran uang kembali. Kondisi di DIY daya beli masyarakatnya masih sangat rendah. Sebaliknya produksi meningkat dengan serapan kurang sehingga perputaran uang menjadi mandek atau berhenti saat ini. Oleh karena itu jika sampai akhir tahun kondisi seperti ini terjadi, maka Kota Yogya bisa memikul beban yang paling berat di DIY. Hal ini karena bisa memunculkan kerawanan sosial seiring tipologi masyarakat perkotaan sehingga perlu diantisipasi sejak dini. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang masih bisa mengandalkan hasil kebun atau sawah ketika ekonomi lumpuh.

Dibanding empat kabupaten lain di DIY, Kota Yogya berpotensi atau rentan mengalami dampak terberat akibat pandemi Covid-19. Terutama dampak dari kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hal ini karena aktivitas di Kota Yogya sangat ditopang oleh pariwisata dan pendidikan. Jika sektor pariwisata dan pendidikan sudah lumpuh maka akan langsung berpengaruh pada UMKM dan pekerja informal. Sudah banyak UMKM yang tutup karena tidak ada wisatawan, padahal 98 persen perekonomian di Kota Yogyakarta digerakkan oleh UMKM. Wisata Yogyakarta kehilangan turis karena Corona, tulang punggung ekonomi itu patah karena kontribusi pariwisata bagi Kota Yogyakarta sangatlah besar, yaitu 64,6 persen. Dengan rincian 10,4 persen dari hotel dan kuliner, 8,1 persen dari pendidikan dan 46 persen dari faktor pendukung pendidikan dan pariwisata. Ini menunjukan bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi Kota Yogyakarta, hotel-hotel kesulitan keuangan, merumahkan sebagian karyawan, begitu juga warung makan yang dikelola masyarakat juga tutup karena mahasiswa mulai pulang kampung.

Selama pandemi ribuah mahasiswa yang berasal dari luar daerah memilih pulang kampung. Akibatnya, menurut Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta kehilangan potensi uang yang berputar hingga Rp27 miliar per hari. Saat ini di Yogyakarta ada sekitar 130 perguruan tinggi negeri dan swasta. Survei Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta menyebut, tahun ini ada 357 ribu lebih mahasiswa diploma dan sarjana di Yogyakarta. Dari jumlah itu, sekitar 274 ribu mahasiswa berasal dari luar daerah, otomatis tak ada lagi pengiriman uang dari orang tua ke mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan hidup di Yogyakarta. Jadi, dari sumber mahasiswa saja, ada potensi uang beredar yang berkurang sampai Rp833 miliar perbulan atau sekitar Rp 27 miliar perhari. Seorang mahasiswa bisa membelanjakan Rp1 juta untuk makan dan minum, Rp 400.0000 untuk pondokan, dan Rp 700.000 untuk rekreasi, hiburan, serta gaya hidup. Menurut data dari Bank Indonesia, belanja kebutuhan mahasiswa selama satu bulan mencapai Rp3 juta. Keberadaan mahasiswa tidak hanya memberi dampak positif bagi pengelola perguruan tinggi, namun penerima manfaat terbesar secara ekonomi justru masyarakat.

Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi diasumsikan bisa minus 2,2 persen, indeks kesenjangan masyarakat diperkirakan mengalami kenaikan dari 0,418 menjadi 0,592. Catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan ada 14.055 pekerja terdampak dari jumlah tersebut 258 di antaranya di PHK dan 13.797 dirumahkan. Sebanyak 14.055 pekerja ini berasal dari 307 perusahaan. Selain itu ada pula 474 orang pekerja informal. Kondisi inilah menurut Bappeda yang menyebabkan angka kemiskinan mengalami kenaikan menjadi 10,46 persen dari 4,8 persen. Peningkatan garis kemiskinan meningkat menjadi Rp334,461per kapita, komoditi makanan masih mendominasi pembentukan Garis Kemiskinan dibandingkan dengan komoditi bukan makanan. Tingkat pengangguran terbuka juga meningkat 3,338, TPT tertinggi adalah lulusan tingkat perguruan tinggi (PT).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pandemi juga mengganggu pola inflasi, angka inflasi mencatat gangguan yang ditimbulkan dari lonjakan PHK dan perubahan skema kerja menjadi WFH sehingga memukul permintaan yang berimbas pada suplai. Pergerakan inflasi sudah meninggalkan trennya yang paling kentara adalah rendahnya inflasi pendidikan, padahal bulan Juli bertepatan dengan pembukaan tahun ajaran baru hanya 0,16%. Di samping pendidikan, inflasi dari kategori makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami perubahan. Selama tahun 2019, kelompok pengeluaran ini mengalami inflasi 0,24%, di tahun 2020, justru tercatat inflasi minus 0,73% alias deflasi dengan andil minus 0,19%.

Komoditas penyumbang inflasi yang lain adalah kenaikan harga emas, andil inflasi emas sendiri mencapai 0,05%. Sejalan dengan itu harga emas Antam juga menunjukkan kenaikan hingga di posisi puncak Rp1,028 juta per gram, padahal sebelum pandemi, harganya berfluktuasi di kisaran Rp600-700 ribu per gram. Penyebab kenaikan harga emas terjadi karena keputusan sebagian masyarakat untuk berinvestasi di aset yang dinilai lebih aman dari inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Perbankan

Marbot Masjid Jakarta Berangkat Umrah Lewat Adira Finance

Published

on

By

Bagi sebagian besar masyarakat, perjalanan ibadah ke Tanah Suci merupakan mimpi besar yang butuh persiapan panjang. Namun, bagi Bapak Feri Jaenudin, seorang marbot masjid di Jakarta, kesempatan itu hadir secara tak terduga melalui kedisiplinan sehari-hari. Di tengah tugas mulianya merawat rumah ibadah, ia terpilih sebagai pemenang program ‘UMRAH Untuk Sahabat’ Adira Finance dan berkesempatan berangkat Umrah.

Kisah Bapak Feri menjadi bukti nyata bahwa niat tulus menjaga keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak, mampu membuka pintu keberkahan yang luar biasa. Kesetiaan membayar angsuran di Adira Finance justru mengantarkannya mewujudkan impian sujud di depan Ka’bah.

“Saya hanya berusaha menjadi ayah yang bertanggung jawab dengan disiplin membayar cicilan pendidikan anak melalui Adira Finance. Tak pernah terbayang bahwa kedisiplinan itu akan menjadi ‘tiket’ saya untuk beribadah di Tanah Suci. Ini sungguh jawaban doa yang datang lewat jalan tak terduga,” ungkap Bapak Feri dengan haru.

Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, program ‘UMRAH Untuk Sahabat’ semakin menegaskan komitmen Adira Finance dalam menghargai loyalitas pelanggan setia. Setelah berhasil memberangkatkan ratusan konsumen ke Tanah Suci dalam dua tahun terakhir, program ini membuktikan bahwa Adira Finance tidak hanya melihat angka transaksi, melainkan juga perjuangan dan harapan setiap keluarga Indonesia.

Swandajani Gunadi, Wakil Direktur Utama Adira Finance, menekankan, “Program ‘UMRAH Untuk Sahabat’ merupakan wujud strategi kami dalam memperkuat ekosistem yang berpusat pada pelanggan. Kami menjalin hubungan bukan sekadar transaksi pembiayaan, tapi kemitraan jangka panjang berbasis kepercayaan. Dengan menyentuh sisi spiritual, kami berkomitmen memberikan nilai tambah yang bermakna di setiap tahap kehidupan Sahabat Setia Selamanya.”

Adira Finance terus mempermudah masyarakat mewujudkan impian spiritual melalui berbagai kanal, termasuk Adira Expo di berbagai kota. Setiap pengajuan pembiayaan langsung di Adira Expo memberikan peluang menang dua kali lipat dalam program ‘UMRAH Untuk Sahabat’, sebagai bentuk apresiasi bagi konsumen yang memenuhi kebutuhan otomotif maupun SolusiDana.

Kesempatan masih terbuka hingga 30 Juni 2026 bagi seluruh konsumen Adira Finance. Peluang menang dapat ditingkatkan dengan menukar adirapoin menjadi kupon undian melalui aplikasi adiraku, lengkap dengan bonus saldo uang elektronik hingga Rp100.000 untuk penukaran minimal 40 kupon. Bagi yang merencanakan Haji Plus, solusi syariah HASANAH hadir untuk memperoleh Nomor Porsi tanpa harus menunggu tabungan terkumpul penuh.

Continue Reading

Events

Risiko Jadi “Vassal State”? Ekonom UGM Warning soal Bahaya ART Indonesia-Amerika

Published

on

By

Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rimawan Pradiptyo, Ph.D., menyoroti ketimpangan dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani 19 Februari 2026. Menurutnya, perjanjian ini perlu dikaji mendalam menggunakan Regulatory Impact Assessment (RIA) agar dampak jangka pendek maupun panjang terhadap ekonomi nasional bisa dipahami secara utuh.

Rimawan menilai, idealnya pemerintah melakukan RIA sebelum dan selama negosiasi. Namun, akademisi baru mengakses dokumen lengkap setelah perjanjian diunggah ke situs resmi pemerintah AS. “Kita tetap bisa lakukan analisis RIA sambil menunggu konsultasi pemerintah ke DPR,” ujarnya.

Perjanjian ini dinilai asimetris. Bagian mukadimah ART menjanjikan kedaulatan, kemakmuran, dan rantai pasok yang tangguh dengan manfaat bersama. Namun, isi utama perjanjian justru membebani Indonesia lebih berat, sementara keuntungan terbesar mengalir ke Amerika Serikat.

“Indonesia menghadapi risiko lebih tinggi, termasuk gugatan dari negara lain melalui WTO dan kemungkinan retaliasi,” jelas Rimawan. Amerika Serikat memiliki empat klausul pengaman (safeguard clause), sementara Indonesia tidak punya perlindungan setara, sehingga meningkatkan risiko ekonomi dan hukum.

Selain itu, ada potensi pelanggaran terhadap lima pasal UUD 1945, termasuk Pembukaan UUD, yang memerlukan penyesuaian regulasi besar-besaran mulai dari undang-undang hingga peraturan teknis. Rimawan menggunakan pendekatan game theory untuk menganalisis proses negosiasi, yang lebih mirip ultimatum game di mana Amerika Serikat berposisi sebagai pemimpin (leader) dan Indonesia sebagai pengikut (follower).

Beberapa pasal dinilai memberatkan, seperti kewajiban memfasilitasi pembelian barang AS, harmonisasi regulasi, pembatasan kebijakan domestik, hingga kewajiban membuka lapangan kerja dan investasi di Amerika Serikat. Perjanjian ini juga berpotensi mengganggu politik bebas aktif Indonesia dan membatasi ruang Indonesia menjalin FTA dengan negara lain karena hak veto AS.

Rimawan mengingatkan, ART mencerminkan kembalinya semangat merkantilisme era kolonial di tengah perdagangan global modern. Ia mencontohkan pengalaman Konferensi Meja Bundar (KMB) pasca-kemerdekaan, di mana Indonesia menanggung beban ekonomi berat demi kedaulatan. “ART ditandatangani tanpa perang atau krisis, tapi berpotensi menjadikan Indonesia seperti negara bawahan,” pungkasnya.

Continue Reading

Events

Adira Finance Berangkatkan 300 Pemudik Gratis ke Solo dan Yogyakarta

Published

on

By

Menyambut perayaan mudik Lebaran 2026, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) kembali menghadirkan Program Mudik Gratis Kembali Seru Bersama (KURMA). Program yang memasuki tahun kelima ini menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam mendampingi masyarakat menjalani perjalanan mudik dengan aman, nyaman, dan penuh kebersamaan.

Program KURMA 2026 mendapat antusiasme yang sangat tinggi dengan lebih dari 5.000 pendaftar dari wilayah Jabodetabek. Dari jumlah tersebut, sebanyak 300 peserta terpilih diberangkatkan menggunakan 10 armada bus menuju dua kota tujuan utama, yaitu Solo dan Yogyakarta.

Direktur Adira Finance, Denny Riza, menyatakan bahwa Program KURMA merupakan salah satu inisiatif unggulan perusahaan yang terus dinantikan masyarakat. Menurutnya, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan momen penuh makna untuk berkumpul kembali dengan keluarga. Melalui program ini, Adira Finance berupaya memastikan para pemudik dapat menjalani perjalanan dengan lebih tenang dan aman.

Untuk menjamin kesehatan dan keselamatan peserta, Adira Finance menyediakan layanan mini medical check-up sebelum keberangkatan, meliputi pemeriksaan tekanan darah dan konsultasi kesehatan ringan. Pemeriksaan ini difasilitasi oleh INCRESO, organisasi sosial nirlaba yang didirikan oleh karyawan Adira Finance. Selain itu, seluruh peserta juga mendapatkan perlindungan asuransi Personal Accident (PA) dari Zurich Syariah.

Ken Sukasah, Senior Executive Vice President Partnership & Business Development Zurich Indonesia, mengatakan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Zurich Syariah untuk memberikan ketenangan dan perlindungan kepada masyarakat, khususnya saat menjalani perjalanan mudik Lebaran yang menjadi momen penting bagi keluarga Indonesia.

Salah satu peserta, Mujiono, yang mudik bersama keluarganya menuju Solo, menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah sangat bersyukur bisa ikut Program KURMA. Program ini sangat membantu kami mudik tanpa khawatir biaya transportasi. Perjalanan jadi lebih tenang dan nyaman. Terima kasih Adira Finance,” ujarnya.

Selain fasilitas di dalam bus berupa games interaktif dan hiburan, Adira Finance juga menyalurkan bantuan CSR kepada ratusan pekerja informal di Rest Area KM 166 Tol Cipali, seperti pedagang kecil, petugas kebersihan, dan pekerja layanan pendukung lainnya. Program ini turut didukung oleh tvOne sebagai mitra kolaborasi, yang juga menyalurkan bantuan sembako bagi para pekerja informal tersebut.

Direktur Bisnis Sales Marketing & Programming tvOne, Maria Goretti Limi, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Adira Finance merupakan wujud nyata komitmen kedua perusahaan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, baik bagi para pemudik maupun pekerja informal yang tetap bertugas selama periode Lebaran. Adira Finance berharap Program KURMA 2026 dapat membawa kebahagiaan dan kehangatan bagi seluruh peserta serta keluarga di kampung halaman.

Continue Reading

Trending