Events
#YangBaruPastiSeru GEBYAR HAPPY LAND by Nusantara Entertainment
WWW.EKBIZZ.COM – Nusantara Entertainment dari PT Sinar Kreasi Jaya dalam semangat HUT RI yang ke-74 kembali meramaikan industri entertainment dengan menggelar acara Gebyar Happy Land pada Minggu 25 Agustus pukul 10.00 WIB di Sleman City Hall Yogyakarta, Jl. Magelang Km. 9,6 No. 18, Kel. Denggung, Kec. Tridadi, Kab. Sleman.
Happy Land merupakan salah satu produk dan konsep arena bermain edukatif dari Nusantara Entertainment yang berdiri sejak tahun 1978. Sebagai wahana permainan dan hiburan yang paling pertama lahir di Indonesia, Nusantara Entertainment selalu memiliki konsep permainan menarik yang sayang untuk dilewatkan.
“Happy Land merupakan indoor playground nomor satu di Indonesia yang memiliki jumlah permainan terbanyak dan terlengkap. Wahana permainan dan hiburan yang kita punya selalu mengikuti kemajuan teknologi dan bersifat edukatif. Happy Land ini menyediakan arena rekreasi dengan kualitas hiburan dan pelayanan yang aman, bersih, nyaman dan bersahabat,” ujar penerus Nusantara Entertainment, Stephanie Wongsoredjo.
Sebagai CEO lulusan Haas School of Business, University of California Berkeley, Stephanie coba melahirkan konsep-konsep inovatif untuk menemani keluarga Indonesia. Berbekal inovasi di ranah teknologi dan riset mendalam terkait perkembangan zaman, Stephanie menciptakan ‘wajah baru’ Happy Land. Tidak hanya menjadi sarana permainan yang menghibur masyarakat, Happy Land pun menyediakan wisata edukatif yang mampu melatih kreativitas serta meningkatkan kebersamaan di masyarakat.
Penggunaan teknologi yang lebih advance dan wahana permainan tematik di Happy Land menjanjikan momen berkumpul yang menyenangkan bersama keluarga maupun kerabat.
“Di Happy Land Sleman City Hall ini kita pakai konsep wahana yang tematik dan edukatif, satu-satunya yang ada di Yogyakarta. Misalnya kita pakai tema winter wonderland, atlantis dan underwater. Nah, Gebyar Happy Land SCH ini merupakan salah satu program yang memberikan wadah sistem edukasi, dikemas dengan lomba sambil bermain sehingga memberikan kesan yang sangat seru dan menyenangkan.“ lanjut Stephanie Wongsoredjo.
Pada acara ini, kemandirian dan rasa untuk berkompetisi anak akan turut diasah. Kegiatan Gebyar Happy Land SCH ini meliputi lomba mewarnai dengan jumlah peserta mencapai 1000 anak dan pagelaran tarian yang ditampilkan oleh anak-anak Yogyakarta. Selain itu, hadir pula anak-anak dari berbagai sanggar seni Yogyakarta seperti Paramanandi Junior Indonesia, Damar Nyanyi Studio dan berbagai penampil lainnya yang akan memeriahkan suasana.
Tidak cukup sampai di situ, acara ini juga dipadukan dengan acara santunan bagi anak-anak yatim piatu dan anak-anak berkebutuhan khusus. Diperkirakan kurang lebih 100 anak yang akan mendapatkan santunan tersebut.
Events
93,5% Rumah Tangga Sudah Punya HP, Apakah Program HP Gratis Bansos Masih Urgen?
Yogyakarta — Rencana pemerintah memberikan telepon seluler (HP) gratis kepada masyarakat dalam rangka mendukung penyaluran bantuan sosial dinilai perlu dikaji ulang. Ekonom sekaligus dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menyebut pemerintah perlu menilai urgensi, efektivitas, serta dampak anggaran dari program tersebut.
Menurut Wisnu, persoalan inklusi keuangan dan kesenjangan digital di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh minimnya kepemilikan perangkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat 93,5 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki telepon seluler.
“Terus terang, urgensinya kurang. Masalahnya ada pada rekening yang tidak dipakai, literasi digital yang rendah, dan titik tarik tunai yang belum merata. PPATK menemukan lebih dari 10 juta rekening penerima bansos menganggur bertahun-tahun. Rekeningnya ada, HP-nya ada, tetapi tidak digunakan,” ujar Wisnu dalam keterangannya.
Anggaran Bisa Lebih Prioritas
Wisnu menilai alokasi anggaran untuk pembagian HP perlu dibandingkan dengan kebutuhan dasar masyarakat yang masih memerlukan perhatian, seperti pendidikan dasar, layanan kesehatan, dan penanganan stunting.
“Setiap rupiah untuk HP adalah rupiah yang tidak masuk ke ruang kelas yang rusak, guru honorer, puskesmas yang kekurangan tenaga, atau penanganan stunting. Kalau dibandingkan, pendidikan dasar dan layanan kesehatan memberi imbal hasil sosial jangka panjang yang jauh lebih jelas dibanding pembagian perangkat yang manfaatnya masih spekulatif,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa biaya program tidak hanya untuk membeli perangkat. Pemerintah masih perlu mengeluarkan dana untuk distribusi, aktivasi, akses internet, pemeliharaan sistem, hingga penggantian HP yang rusak atau hilang.
Sebagai ilustrasi, jika satu perangkat seharga Rp1 juta diberikan kepada 20 juta penerima, kebutuhan anggaran pengadaan saja mencapai Rp20 triliun. Bila jumlah penerima mencapai 74 juta orang, biayanya berpotensi mencapai Rp74 triliun, belum termasuk biaya pendukung lainnya.
“Program semacam ini juga cenderung menciptakan belanja berulang, bukan sekali jalan,” katanya.
HP Gratis Belum Tentu Efektif
Wisnu menyebut kepemilikan HP tidak otomatis meningkatkan produktivitas masyarakat berpenghasilan rendah. Pekerja seperti buruh tani, nelayan, dan pekerja informal lebih membutuhkan modal, keterampilan, akses pasar, serta infrastruktur yang memadai.
“HP bisa membantu kalau ada ekosistemnya, misalnya informasi harga, pemasaran daring, atau akses kredit, tetapi itu tidak muncul hanya karena perangkatnya dibagikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah studi menunjukkan program pemberian HP atau rekening gratis kurang berdampak apabila tidak disertai pendampingan. Sebagai contoh, eksperimen rekening gratis di Malawi, Uganda, dan Chile menemukan tingkat penggunaan yang rendah serta tidak mengubah kebiasaan menabung.
Sementara itu, program pembagian smartphone di Chhattisgarh, India, menunjukkan pelatihan literasi digital yang murah justru memberikan dampak yang lebih bertahan lama.
“Jadi yang penting adalah keberlanjutan. Kalau hanya one shot, sekali bagi HP atau sekali buka rekening, efeknya akan cepat hilang,” tegas Wisnu.
Perlu Skema yang Lebih Tepat Sasaran
Apabila program tetap dilaksanakan, Wisnu menyarankan pemerintah membatasi penerima berdasarkan kebutuhan nyata. Prioritas dapat diberikan kepada rumah tangga miskin dan rentan yang terverifikasi dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya yang belum memiliki perangkat sama sekali.
“93,5 persen rumah tangga sudah punya HP, kelompok ini sebenarnya kecil sehingga anggarannya bisa jauh lebih hemat,” terangnya.
Ia juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan skema subsidi harga atau voucher yang dapat digunakan masyarakat untuk memilih perangkat di pasar. Menurutnya, skema tersebut lebih fleksibel dibandingkan pengadaan terpusat oleh negara.
Selain itu, Wisnu menekankan pentingnya literasi keuangan digital, akses internet yang merata, serta biaya internet yang terjangkau. Tanpa dukungan tersebut, HP gratis berisiko tidak digunakan secara optimal.
“HP gratis tidak memperbaiki data yang salah. Kalau datanya keliru, HP justru jatuh ke tangan yang tidak berhak,” ujarnya.
Wisnu menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah HP yang dibagikan. Pemerintah perlu menilai apakah rekening benar-benar aktif, bantuan sosial tersalurkan tepat waktu, dan masyarakat memperoleh manfaat nyata dari layanan digital.
“Kalau dalam satu atau dua tahun indikator-indikator itu tidak bergerak, pemerintah harus berani menghentikan atau mengubah programnya,” pungkasnya.
Events
Compagnie Kotekan Pukau Penonton YGF 2026
Musisi asal Prancis yang tergabung dalam Compagnie Kotekan memukau penonton dengan memadukan gamelan dan instrumen musik Barat dalam Konser Gamelan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 2026. Aksi tersebut berlangsung di Plaza Ngasem, Yogyakarta, Jumat (31/7/2026).
Konser Gamelan yang menjadi bagian utama YGF 2026 ini berlangsung hingga Minggu (2/8/2026). Acara diikuti oleh musisi dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara asing. Melalui perhelatan ini, penyelenggara ingin mengajak masyarakat merasakan kembali gamelan bukan sekadar sebagai instrumen musik, melainkan sebagai sumber sukacita, ruang kebersamaan, dan penyegaran batin.
Penampilan Compagnie Kotekan menjadi salah satu highlight hari pertama. Mereka memadukan bunyi gamelan Jawa dengan elemen musik Barat, menciptakan harmoni yang segar sekaligus tetap menghormati akar tradisi. Penonton yang hadir di Plaza Ngasem tampak antusias menyaksikan kolaborasi lintas budaya tersebut.
Yogyakarta Gamelan Festival 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pertemuan seniman gamelan dari dalam dan luar negeri. Selain konser, festival ini juga menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan generasi muda dengan warisan musik tradisional Indonesia.
Events
Jadwal YGF 31 Juli 2026 – 2 Agustus 2026
-
Otomotif7 hari agoCadangan Pertalite Turun ke 16 Hari, Ahli Dorong Penguatan Rantai Pasok BBM Nasional
-
Tekno6 hari agoiPhone 18 Pro dan 18 Pro Max Resmi Dibundling IM3 Platinum Plus, Cicilan Mulai Rp499 Ribu
-
Perbankan6 hari agoUang Jajan Cepat Habis? Ini 5 Tips Hemat Ala Gen Z Biar Dompet Tetap Aman
-
Tekno5 hari ago5 Tips Sukses Pakai Dating Apps bagi Perempuan di Atas 40 Tahun
-
Events4 hari ago
93,5% Rumah Tangga Sudah Punya HP, Apakah Program HP Gratis Bansos Masih Urgen?

