Tekno
BCA Lakukan Tim Building Wirawisata Goa Pindul
www.ekbizz.com – Sebagai bank swasta yang sangat memperhatikan pelayanan prima, Bank BCA belum lama ini menyelenggarakan kegiatan Bakti BCA melalui pilar Solusi Bisnis Unggul melaksanakan pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan diikuti oleh seluruh karyawan dan karyawati Wirawisata Goa Pindul di kawasan Pantai Sundak, Gunung Kidul, Yogyakarta.
Program khusus ini berupaya mengajak para Wirawisata khususnya Goa Pindul dapat memberikan pelayanan yang bagus untuk wisatawan terutama dalam bidang Layanan Prima, Standar Layanan, Pelatihan Website 4.0, dan pelatihan standar layanan khusus untuk pemandu wisata. Pengembangan SDM yang berlangsung mulai tanggal 24-25 Februari 2020. Bakti BCA juga berkontribusi untuk menyediakan papan petunjuk arah dan papan yang berisi seputar informasi Goa Pindul untuk menambah pengetahuan wisatawan yang akan berkunjung.
Bertemu dengan rekan media belum lama ini, Vice President CSR BCA Ira Bachtar mengatakan, Pelatihan ini bertujuan untuk lebih mempererat kekompakkan dan solidaritas antara sesama karyawan/i Wirawisata Goa Pindul, juga mengembangkan ide untuk Wirawisata Goa Pindul yang lebih baik lagi untuk mencapai kemajuan bersama tentunya.
Selain dikarenakan merupakan salah satu Desa Binaan Bakti BCA, Wirawisata Goa Pindul juga memiliki kekayaan potensi alam dan obyek wisata yang baik dan mampu mendatangkan ribuan wisatawan setiap tahunnya.
Ira juga menambahkan, selain untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, dengan adanya pengembangan dari dalam ini BCA juga berharap dapat mendorong para wirawisata untuk terus berkarya dan bersaing secara sehat dengan adanya bebera pintu operator disana.
Hingga saat ini, BCA memiliki 12 Desa dan komunitas binaan yang tersebar di wilayah Tanah Air diantaranya yakni Desa Wisata Pentingsari Sleman dan Wisata Wayang Wukirsari Bantul.
Berkat komitmen dalam menjalankan proyek sosialnya, BCA meraih CECT Sustainability Awards 2019 untuk kategori CSR Core Subject based on ISO 26000: Consumer Issues dan Overall Sustainability Performance: Finance Industry pada November 2019 lalu.
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor utama dalam keberhasilan usaha BCA. Oleh karena itu, kami pun juga senantiasa menerapkan nilai-nilai keberhasilan yang kami pegang ke seluruh Desa Binaan kami, tutup Ira.
Tekno
UGM Juara Dunia, Inovasinya Pakai Drone untuk Selamatkan Korban Bencana
Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah global. Tim Tycoon berhasil meraih First Prize dalam ajang Global Sustainability Challenge (GSC) tahap Regional Final yang diselenggarakan pada 17–18 Januari 2025 di Zhejiang University, Hangzhou, China.
Global Sustainability Challenge (GSC) merupakan kompetisi tahunan berskala internasional yang mempertemukan mahasiswa dari seluruh dunia untuk merancang, menerapkan, dan memamerkan solusi inovatif bagi isu keberlanjutan. Pada tahap regional final Asia Pasifik kali ini, kompetisi diikuti oleh 66 tim dari berbagai negara.
Kolaborasi Internasional dengan Solusi Teknologi Tanggap Bencana
Tim Tycoon merupakan tim kolaboratif yang terdiri atas empat mahasiswa UGM: Najwa Waqiah Saleh (Manajemen 2022), Nikita Dinda Azizah (Manajemen 2022), Gustav Susanto (Manajemen 2022), dan Satwika Nino Wandhana (Ilmu Komputer 2023). Mereka berkolaborasi dengan dua mahasiswa dari The Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), yaitu Pranavi Kuntrapakam (Computer Engineering + AI) dan Anuk Ranaweera (Mechanical Engineering).
Dalam kompetisi tersebut, Tim Tycoon menghadirkan inovasi berbasis teknologi untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, khususnya di negara berisiko tinggi seperti Indonesia. Gagasan mereka berupa sebuah aplikasi mobile yang terintegrasi dengan teknologi drone.
“Indonesia merupakan salah satu negara yang paling terdampak bencana alam, tetapi dari tahun 2004 hingga sekarang, belum terlihat perubahan signifikan baik dari sisi rapid response maupun proactive prevention,” ungkap Najwa Waqiah Saleh, salah satu anggota tim.
Sistem yang mereka rancang memanfaatkan drone untuk memetakan area terdampak bencana dan mendistribusikan bantuan darurat seperti makanan, minuman, dan perlengkapan P3K. Sementara itu, aplikasi mobile berfungsi sebagai pusat koordinasi dan penyebaran informasi yang menghubungkan masyarakat, relawan, dan pihak berwenang untuk merespons bencana dengan lebih efektif.
Menaklukkan Tantangan Waktu dan Koordinasi Lintas Negara
Proses kompetisi dimulai sejak tahap preliminary pada Oktober 2024, dilanjutkan dengan pengembangan prototipe selama kurang lebih satu bulan. Najwa mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terletak pada keterbatasan waktu dan sumber daya untuk mengintegrasikan dua platform teknologi yang berbeda.
“Selain tantangan teknis, dinamika kerja tim lintas negara juga menjadi ujian tersendiri. Kami harus berkoordinasi secara daring dari berbagai zona waktu tanpa pernah bertemu fisik,” tambah Najwa. Namun, hal ini justru menjadi pembelajaran berharga. Kunci keberhasilannya, menurutnya, adalah pemberian ruang bagi setiap anggota untuk berkontribusi sesuai keahlian masing-masing, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan bersama atas ide yang diusung.
Validasi Ide dan Bukti Kesiapan Bersaing di Tingkat Global
Pencapaian ini tidak lepas dari bimbingan dosen pendamping, Prof. Wakhid Slamet Ciptono, M.B.A., M.P.M., M.P.U., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen FEB UGM. Menurut Prof. Wakhid, solusi yang dipresentasikan tim telah menunjukkan kedalaman analisis dan relevansi dengan kondisi aktual.
“Kasus yang diangkat Tim Tycoon adalah kasus negara berkembang yang memiliki potensi menuju negara maju. Solusi yang disampaikan sudah mengaitkan isu keberlanjutan termasuk aspek lingkungan, sehingga penyampaian solusi bisnisnya komprehensif,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa capaian First Prize ini membuktikan kesiapan mahasiswa UGM untuk bersaing di tingkat internasional.
Bagi Najwa dan tim, penghargaan ini lebih dari sekadar kemenangan kompetisi. “Ini menjadi sarana untuk memvalidasi gagasan yang lahir dari kepedulian terhadap kondisi negara sendiri. Proses ini juga memberikan pembelajaran sangat berharga tentang pengambilan risiko dan pengembangan diri,” tutupnya.
Keberhasilan Tim Tycoon membuktikan bahwa kolaborasi internasional dan inovasi berbasis teknologi dapat menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan global, khususnya dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Tekno
Cetak Lulusan Siap Kerja, Kemenperin & Sailun Group Gelar Wisuda Perdana Program Internasional
Kementerian Perindustrian RI (Kemenperin) mencatatkan tonggak bersejarah dalam pengembangan sumber daya manusia industri nasional. Angkatan pertama mahasiswa program internasional Indonesia-Luban·Mozi College (Sailun Group) telah resmi menyelesaikan studi mereka. Upacara kelulusan digelar secara hybrid dari Qingdao Technical College (QTC) di Tiongkok dan disambungkan secara daring ke Indonesia, Selasa (20/1).
Program unggulan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Politeknik ATK Yogyakarta (di bawah BPSDMI Kemenperin), Qingdao Technical College (QTC), dan raksasa industri ban Sailun Group. Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri Kemenperin, Wulan Aprilianti Permatasari, menekankan bahwa momen ini adalah perayaan sebuah pencapaian bersejarah. “Kemitraan ini membuktikan bahwa pendidikan dan industri dapat bersinergi melintasi batas negara,” ujarnya.
Program ini dinilai berhasil menjadi jembatan efektif yang menghubungkan teori di kampus dengan praktik nyata di lantai produksi. Wulan memberikan apresiasi tinggi kepada QTC dan Sailun Group yang telah menjadi ‘rumah kedua’ bagi para mahasiswa. “Dengan mendekatkan kampus ke industri, kita sedang membangun pemimpin masa depan untuk industri karet dan ban di Indonesia,” tambahnya.
Para wisudawan angkatan pertama ini disebut sebagai pionir yang tangguh karena berhasil beradaptasi dengan budaya, bahasa, dan teknologi manufaktur canggih selama studi di Tiongkok. Lebih dari sekadar lulusan, mereka dipastikan langsung terserap ke dunia kerja. Wulan berpesan agar mereka bekerja dengan giat dan disiplin, serta mengingat bahwa mereka membawa nama bangsa dalam karier di Sailun Manufacturing Indonesia.
Acara kelulusan ini didukung penuh dan dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi, antara lain Kepala BPSDMI Kemenperin Dr. Ir. Doddy Rahadi, M.T., dan Presiden QTC Xing Guanglu. Kemenperin menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan memperluas program ini, termasuk bersiap mengirimkan angkatan mahasiswa berikutnya guna memperkuat ikatan bilateral Indonesia-Tiongkok.
Agenda wisuda juga diisi dengan laporan akademik, penyerahan sertifikat, serta testimoni transformatif dari perwakilan mahasiswa, M. Akbar Maulana, yang berbagi pengalaman berharganya selama menempuh pendidikan di Tiongkok. Program ini menjadi bukti nyata kontribusi Kemenperin dalam menciptakan SDM industri yang kompeten dan berdaya saing global.
Tekno
Perkuat Fondasi Ekonomi Digital, IDCamp 2025 Hadirkan Dua Jalur Pembelajaran Khusus AI Engineer
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) telah menjadi pendorong utama transformasi global, menciptakan peluang ekonomi yang masif sekaligus menuntut kehadiran profesi krusial: AI Engineer. Profesi ini berperan vital dalam mengembangkan sistem cerdas yang mampu mendorong efisiensi, akurasi pengambilan keputusan, dan inovasi lintas industri. Namun, Indonesia saat ini menghadapi tantangan signifikan berupa kesenjangan talenta digital, khususnya di bidang engineering.
Data Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mencatat jumlah engineer yang terdaftar baru mencapai sekitar 86.000 orang, dengan rasio 2.670 engineer per satu juta penduduk. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Vietnam (9.000 per juta) dan Korea Selatan (25.000 per juta). Padahal, kebutuhan ideal untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital nasional mencapai lebih dari 10.000 engineer per satu juta penduduk setiap tahunnya. Kesenjangan ini menjadi pengingat bahwa tanpa ketersediaan AI engineer yang memadai, Indonesia berisiko hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pencipta inovasi.
Menjawab kebutuhan mendesak ini, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) secara konsisten mengambil peran strategis dalam mencetak talenta digital siap bersaing melalui program unggulannya, IDCamp 2025.
IDCamp 2025 Hadirkan Jalur Pembelajaran Khusus AI Engineer
IDCamp 2025 secara strategis mengintegrasikan dan menanamkan pembelajaran AI ke dalam kurikulum dasarnya. Tahun ini, Indosat meluncurkan dua kelas baru yang dirancang untuk melahirkan generasi baru talenta AI profesional Indonesia: AI Engineer dan Gen AI Engineer.
Jalur AI Engineer: Peserta akan menjalani pembelajaran intensif selama 440 jam, berfokus pada pengolahan data dan machine learning dari dasar hingga tingkat lanjut. Materi mencakup penguasaan Python, pemodelan end-to-end, evaluasi, dan proyek terapan untuk membangun solusi AI/ML yang aplikatif.
Jalur Generative AI Engineer: Dengan total durasi 456 jam, kurikulum ini menekankan pada pengembangan machine learning menggunakan TensorFlow, dikombinasikan dengan konsep Large Language Models (LLM) dan prompt engineering. Pembelajaran juga mencakup implementasi praktis seperti RAG (Retrieval-Augmented Generation), fine-tuning, dan prinsip responsible AI.
IDCamp 2025 menerapkan model pembelajaran self-paced yang fleksibel, dipadukan dengan pendekatan berbasis proyek dan sesi bimbingan dari fasilitator ahli, memastikan penguasaan kapabilitas praktis siap diterapkan di industri. Program ini juga diperkaya dengan bonus track unggulan, yaitu Cybersecurity bersama Cisco hingga level Advanced dan Automation bersama UiPath hingga level Intermediate.
Sejalan dengan semangat inklusivitas, IDCamp 2025 kembali menyelenggarakan Virtual Bootcamp untuk penyandang disabilitas, serta program pelatihan khusus bagi pengajar dan jurnalis untuk mengakselerasi literasi digital di seluruh lapisan masyarakat.
Vikram Sinha, President Director & Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menyampaikan, “Talenta digital merupakan fondasi utama transformasi Indonesia di era global. Oleh karena itu, Indosat berkomitmen untuk membekali 2 juta talenta dengan kemampuan AI, memastikan mereka siap menghadapi masa depan. Didukung penuh oleh ekosistem mitra global kami, komitmen ini terwujud melalui peluncuran program IDCamp 2025.”
Lebih lanjut, Vikram menambahkan, “Dengan menyediakan akses inklusif ke pembelajaran digital, kami tidak hanya meningkatkan daya saing individu, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di peta ekonomi digital global, sejalan dengan tujuan besar kami untuk memberdayakan Indonesia.”
Melalui inisiatif ini, Indosat menegaskan komitmennya sebagai katalisator untuk mengakselerasi lahirnya talenta AI profesional di Indonesia. Sumber daya manusia AI yang kompeten akan menjadi motor penggerak nilai ekonomi baru melalui inovasi, efisiensi, dan solusi berbasis data, mewujudkan kemandirian dan kedaulatan digital bangsa.
Pendaftaran IDCamp 2025 masih dibuka hingga 27 Desember 2025 melalui situs resmi https://idcamp.ioh.co.id/

