Connect with us

Events

Menafsir Ulang Perluasan Seni di Masyarakat

Published

on

Penyelenggaraan FKY 30 yang berlangsung sejak 23 Juli hingga 9 Agustus 2018 terus menarik banyak minat pengunjung, baik wisatawan asing ataupun domestik. Terhitung dari 23 Juli – 29 Juli, sudah lebih dari 54.000 orang datang menikmati agenda seni tahunan ini. Salah satu rangkaian acara FKY 30 yang punya daya tarik tersendiri adalah lokakarya dengan tema ‘Bebrayan’ yang bisa diartikan rumah atau berkeluarga. Tema lokakarya yang menjadi bagian dari program PAPERU FKY 30 tersebut adalah bentuk tafsiran tema besar FKY ‘Mesemeleh’ lewat turunan makna ‘Cah Cak Cek’ yang menjadi tema PAPERU.

Koordinator Divisi Lokakarya, Awaluddin G Mualif mengatakan, tema ‘Bebrayan’ menfasir ulang perluasan seni di masyarakat. Jadi, seni tidak hanya diandaikan sangat dekat di masyarakat tetapi sebagai ‘rumah’ yang memiliki dimensi mengayomi dan melindungi.

“Karenanya, Rumahku Surgaku, merupakan ungkapan utama yang menjadi landasan berpikir lokakarya tahun ini. Di dalam rumah kita harus bisa mesem dan semeleh untuk mengendorkan urat saraf supaya keseimbangan kehidupan tercapai. Selain itu juga harus memiliki gerak daya dinamis sebagai Cah Cak Cek sehingga mampu mewarnai dinamika kehidupan,” tuturnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, lokakarya ini mengambil beberapa tema seni dengan menyasar sejumlah lokasi yang dianggap representatif dan mewakili, seperti Pondok Pesantren dan Gereja sebagai representasi dari kalangan religius spiritual. Ada pula Desa Bintaran, Piyungan dan Dusun Sembung, Pakem Sleman sebagai representasi dari masyarakat budaya. Tidak ketinggalan Bantaran sungai Code sebagai representasi masyarakat urban yang memiliki gelak geliat pendidikan yang luar biasa.

Lokakarya pertama dilaksanakan di Dusun Sembung, Purwobinangun, Pakem, Sleman, pada 26 Juli 2018 lalu dengan materi membatik dengan teknik jumputan. Acara yang berlangsung dari jam 09:00 hingga 13:00 WIB ini dipandu oleh Putri Ali Mukti dan diikuti tidak hanya ibu-ibu PKK Dusun Sembung, tapi juga beberapa pelajar.

Lokakarya kedua dilaksanakan Minggu, 29 Juli 2010 dengan materi melukis di atas kipas (fan art) dengan pemateri Laksmi Sitoresmi dan Kepodang Art Space. Selain itu, ada pula kegiatan menarik lain yaitu gogoh (mengambil) ikan di sungai bersama Masyarakat Turut Kali (Maturka). Lokakarya tersebut juga turut dimeriahkan penampilan Hole Teater dan Keluarga Pelajar Mahasiswa Banyuwangi Yogyakarta (KPMBY) yang mempersembahkan ‘Bhre Stya Palastra’, dan penampilan dari Genk Kobra.

Beberapa hari kedepan, lanjut Awaluddin G Mualif, masih ada beragam lokakarya lain yang akan digelar, yaitu workshop ‘Bermain dengan Tanah Liat’ pada 31 Juli 2018 jam 14:00 – 17:00 WIB di Gereja Priggolayan, Banguntapan, Bantul, dengan pemateri seniman muda Yogya, Alvis Noor.

Kemudian Jumat 3 Agustus 2018, workshop ‘Melukis di Batu’ (Stone Art) jam 15:00 WIB – selesai di Paguyuban Pengajar Pinggir Sungai (P3S) Kali Code dengan pemateri Syera, dan musikalisasi puisi sebagai hiburan.

Lalu ada workshop ‘Wayang Sesuk’ dan ‘Membuat Taplak Meja’ pada hari Minggu 5 Agustus 2018, jam 08:00 – 12:00 WIB di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Ngagil, Sleman. Hadir sebagai pemateri dalam lokakarya ini adalah Sanggar Malaya dan Nurisma.

Selain lokakarya-lokakarya yang digelar di lokasi-lokasi tersebut, ada lagi sebuah lokakarya ‘Bunda Kata’ dengan tema ‘Dunia Bersama’. Lokakarya ini sifatnya non-ruang. Jadi, diadakan open submission atau pendaftaran bagi siapa saja yang berminat dan berkenan mengirimkan tulisan berupa puisi, cerpen, esai, opini, komik strip, ilustrasi dalam batasan kertas A4, semacam Zine. Tema besar ‘Dunia Bersama’ ini mencoba untuk merespon situasi hari ini lewat prespektif yang berbeda-beda. Pembukaan pendaftaran untuk lokakarya ‘Bunda Kata: Dunia Bersama’ sudah ini dimulai sejak 17 Juli dan ditutup pada 1 Agustus 2018.

Events

Compagnie Kotekan Pukau Penonton YGF 2026

Published

on

By

Musisi asal Prancis yang tergabung dalam Compagnie Kotekan memukau penonton dengan memadukan gamelan dan instrumen musik Barat dalam Konser Gamelan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 2026. Aksi tersebut berlangsung di Plaza Ngasem, Yogyakarta, Jumat (31/7/2026).

Konser Gamelan yang menjadi bagian utama YGF 2026 ini berlangsung hingga Minggu (2/8/2026). Acara diikuti oleh musisi dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara asing. Melalui perhelatan ini, penyelenggara ingin mengajak masyarakat merasakan kembali gamelan bukan sekadar sebagai instrumen musik, melainkan sebagai sumber sukacita, ruang kebersamaan, dan penyegaran batin.

Penampilan Compagnie Kotekan menjadi salah satu highlight hari pertama. Mereka memadukan bunyi gamelan Jawa dengan elemen musik Barat, menciptakan harmoni yang segar sekaligus tetap menghormati akar tradisi. Penonton yang hadir di Plaza Ngasem tampak antusias menyaksikan kolaborasi lintas budaya tersebut.

Yogyakarta Gamelan Festival 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pertemuan seniman gamelan dari dalam dan luar negeri. Selain konser, festival ini juga menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan generasi muda dengan warisan musik tradisional Indonesia.

Continue Reading

Events

Jadwal YGF 31 Juli 2026 – 2 Agustus 2026

Published

on

By

Continue Reading

Events

Jadwal Event YGF 2026

Published

on

By

Continue Reading

Trending