Events
Pembekalan Bela Negara & Adaptasi Kebiasaan Baru Sebagai Spirit Nikah Bareng Merah Putih
www.ekbizz.com – Dampak pandemi covid-19 sekarang ini di Dunia khususnya Indonesia berimbas terhadap ritual budaya dan perekonomian di Indonesia khususnya industri pariwisata dan industri wedding. Oleh karena itu bersinergi dengan program pemerintah terhadap Adaptasi Kebiasaan Baru juga membantu masyarakat yang tidak mampu untuk dapat menikah, maka kami mempersembahkan Nikah Bareng Merah Putih bertema Bersatu Merajut Kasih, Berjuang Ditengah Pandemi Untuk Indonesia Maju bertepatan dengan momentum Dirgahayu Indonesia ke-75 Tahun dan HUT FORTAIS ke- 9 Tahun. Acara ini adalah yang ke – 5 (lima) Nikah Bareng yang digelar selama pandemi covid-19 dan kali ini persembahan FORTAIS ( Forum Ta’aruf Indonesia) Sewon Bantul DIY dan Kantor Kementrian Agama Kabupaten Bantul, didukung Pemerintah Kabupaten Bantul, PMI Bantul, Latifa Jewerly, Paguyuban Rias Kinasih, Paguyuban Rias Sekar Kantil, Puluhan MUA (make up artis), Komunitas Fotografi Indonesia Region DIY, Semanak Dekor, Java Videotron, Pita Biru Production, Taman Bunga dan berbagai pihak.
Hari ini Selasa, 28 Juli bertempat di KUA Kretek Bantul puluhan calon pengantin sesuai protokol kesehatan mengikuti pembekalan Bela Negara dan Adaptasi Kebiasan Baru sekaligus Keluarga Sakinah. Acara yang di awali dengan bersama – sama menyanyikan lagu Indonesia Raya disusul dengan bersama- sama bersemangat mengepalkan tangan meneriakan Dirgahayu RI ke-75 Tahun Merdeka !!. Acara yang diisi oleh pemateri dari : Kapolsek Kretek, Danramil Kretek dan Kepala KUA Kretek yang dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bantul H. Aidi Johansyah, S.Ag.,MM . Pada pembekalan manten Kepala KUA Kretek Mustafied Amna, S.Ag, M.H. berharap dengan momentum ini dapat menciptakan keluarga baru yang berkarakter Indonesia yang berjiwa nasionalis dan sakinah dalam rangka mendukung program “Pusaka Sakinah” (Pusat Layanan Keluarga Sakinah) yang menjadi pilar program KUA Kretek.
Di sela – sela acara Ketua Golek Garwo FORTAIS Sewon & Nikah Bareng Nasional RM. Ryan Budi Nuryanto, SE juga menegaskan dengan pernikahan tersebut dapat tertanam rasa juang kebangsaan ditengah masa pandemi covid-19 bersama – sama bangkit dan berbagi untuk sesama sekaligus menginsiprasi pelaku industri pariwisata, industri wedding dan calon pengantin bahwa Pernikahan Aman dengan perilaku adaptasi kebiasaan baru sesuai dengan protokol kesehatan. Sehingga pernikahan kali ini membawa misi : sosial, religi, budaya, pariwisata dan kebangsaan serta membantu menggerakkan roda perekonomian industri pariwisata dengan bersinergi industri wedding untuk menjual DIY khususnya Kabupaten Bantul sebagai Destinasi Wedding. Insyaalloh pada Momentum ini akan kami persembahkan pernikahan pasangan ke 8375 untuk Dirgahayu Indonesia ke-75 Tahun dan HUT FORTAIS ke-9 di Pernikahan Bareng ke-55 tahun 2020 ini.
Untuk itu kami masih membuka pendaftaran Nikah Bareng Merah Putih sampai tanggal 31 Juli 2020 bagi yang berminat bisa menghubungi KUA se- Bantul atau hotline : 081 579 08 232 / Ryan, dimana acara ini terbuka untuk umum dan kami menyediakan 75 paket pernikahan secara gratis ( mahar / cincin kawin merah putih, rias / busana pengantin, dokumentasi, ijab unik dsb). Hal ini menjadi Pernikahan Maraton Unik Pertama di Indonesia karena akan digelar selama dua (2) Pekan dari : tanggal 3 Agustus s/d. 14 Agustus 2020 di KUA se- Bantul dan puncak acara akan digelar pada tanggal 12 Agustus 2020 dengan prosesi tiktok massal & kirab dari Pantai Cemara Sewu / Gumuk Pasir Kretek Bantul dan Ijab Unik di KUA Kretek Bantul. Untuk itu masyarakat segera daftar tidak usah pusing tentang biaya dan konsep nikah insyaalloh pernikahan besok menjadi luar biasa dan barokah serta sesuai dengan protokol kesehatan. Bagi yang masih Jomblo jangan khawatir bisa mengikuti acara Golek Garwo (kontak jodoh) yang digelar tanggal 2 Agustus 2020 pukul : 09.00 s/d. 11.00 WIB di Kantor Kecamatan Sewon Bantul, bagi yang berminat bisa hubungi hotline : 081 579 08 232 atau dapat langsung datang dengan membawa identitas diri dan tetap mematuhi protokol kesehatan.
Pada kesempatan ini H. Aidi Johansyah, S.Ag.,MM (Kepala Kemenag Kab. Bantul) menyambut baik atas terselenggaranya acara Nikah Bareng dalam rangka 75 Tahun Kemerdekaan RI ini, mudah-mudahan dapat membantu meringankan beban para catin (calon manten) dan juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Hal yang sama disampaikan juga perwakilan Paguyuban Rias Sekar Kantil Rakhmadewi dengan adanya ini Perias dapat berkarya kembali, bersosial dan memeriahkan HUT RI ke-75 Tahun, semoga menjadi persembahan yang bermanfaat untuk catin (calon manten) dan masyarakat dengan mengusung konsep rias manten nusantara dan modern bridal untuk puncak acaranya.12 Agustus 2020 di Pantai Cemara Sewu dan KUA Kretek Bantul. Bagi pengantin yang nikahnya di KUA se-Bantul akan dirias cantik dan anggun dengan baju pengantin sesuai spirit 75 Tahun Dirgahayu Indonesia dan diabadikan moment bahagia oleh rekan fotografer KFI DIY baik di KUA maupun di destinasi wisatanya.
Events
Media Lokal Didorong Adaptif Hadapi Transformasi Digital Tanpa Tinggalkan Etika Jurnalistik
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Arus berita yang bergerak sangat cepat menuntut media untuk mampu beradaptasi, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik sebagai fondasi kepercayaan publik.
Sebagai upaya memperkuat daya saing media lokal di era digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menggelar Workshop Media Lokal Berkelanjutan di Isvara Riverside, Sleman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Farida Dewi Maharani, mengatakan kemajuan teknologi telah menggeser pola konsumsi informasi masyarakat. Kehadiran berbagai platform digital membuat siapa pun kini dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
Menurutnya, kondisi tersebut membawa tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu akurat sehingga masyarakat semakin sulit membedakan berita yang benar dengan hoaks. Karena itu, media dituntut tidak hanya cepat menyajikan informasi, tetapi juga memastikan setiap berita telah melalui proses verifikasi.
Farida menegaskan kepercayaan publik merupakan modal utama media. Di tengah algoritma platform digital yang cenderung mengutamakan konten sensasional, media harus tetap menjaga integritas dan profesionalisme agar loyalitas pembaca tetap terpelihara.
Ia juga melihat perubahan algoritma digital membuka peluang bagi media lokal karena konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah kini semakin mendapat ruang. Keunggulan media lokal dalam memahami karakter, budaya, dan persoalan masyarakat dinilai menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan.
Pemerintah mendorong media lokal memperkuat kapasitas newsroom, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mengembangkan distribusi multiplatform, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh mengurangi nilai-nilai dasar jurnalistik. Media profesional tetap harus menjunjung Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, proses penyuntingan, dan tanggung jawab kepada publik.
Ia juga mengajak media mengembangkan jurnalisme yang tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi turut menghadirkan solusi serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pemberitaan. Melalui workshop ini, diharapkan insan media semakin siap menghadapi tantangan era digital dengan meningkatkan kualitas jurnalistik, menjaga profesionalisme, serta memperkuat kepercayaan publik agar media lokal tetap berperan sebagai pilar demokrasi.
Events
Jamasan Pusaka Kyai Nolobondo Kembali Digelar di Kebondalem Prambanan
Sleman, 08 Juli 2026 – Masyarakat Dusun Kebondalem, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kembali akan menyelenggarakan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo pada Selasa Pahing, 14 Juli 2026, bertempat di Pendopo Dukuh Kebondalem, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan budaya yang telah menjadi agenda masyarakat ini merupakan wujud pelestarian tradisi leluhur sekaligus penghormatan terhadap pusaka yang diyakini memiliki nilai sejarah dan filosofi bagi masyarakat Kebondalem. Prosesi jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penyucian diri, introspeksi, serta doa bersama dalam menyambut datangnya Tahun Baru Jawa, bulan Sura.
Acara ini terbuka bagi masyarakat dan para pecinta budaya yang ingin mengikuti prosesi jamasan. Panitia juga menyediakan layanan reservasi dengan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi pembersihan pusaka secara adat. Salah satu tim panitia, Dwi Eko Purnomo mengatakan bahwa kegiatan ini mampu menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Tradisi jamasan bukan hanya merawat benda pusaka, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.” jelasnya singkat.
Tradisi yang Sarat Makna
Dalam budaya Jawa, tradisi jamasan pusaka telah berlangsung selama ratusan tahun dan lazim dilaksanakan setiap bulan Sura. Kata jamas berarti memandikan atau membersihkan. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan logam pusaka. Prosesi biasanya diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembersihan pusaka menggunakan air, jeruk nipis, air bunga, hingga pemberian minyak sebagai bagian dari perawatan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian lahir dan batin serta ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Melestarikan Warisan Budaya Lokal
Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo di Dusun Kebondalem menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya lokal di wilayah Prambanan. Selain menjaga eksistensi pusaka yang diwariskan secara turun-temurun, kegiatan ini juga menjadi media mempererat silaturahmi antarwarga, pegiat budaya, dan pemerhati sejarah. Melalui penyelenggaraan rutin setiap tahun, masyarakat berharap tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman serta mampu menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi lokal Sleman kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi jamasan, panitia menetapkan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka. Kontribusi tersebut sudah mencakup seluruh fasilitas selama kegiatan, antara lain prosesi jamasan pusaka, jasa penjamas (tukang jamas) tanpa biaya tambahan, seluruh perlengkapan dan bahan jamasan, konsumsi makan dan minum, serta wedaran pamor dan pembahasan mengenai karakter, filosofi, serta perawatan pusaka yang disampaikan langsung oleh Empu Keris Yogyakarta. Dengan fasilitas tersebut, peserta tidak hanya memperoleh perawatan pusaka secara tradisional, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap pusaka.
Events
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Kotagede
Setelah cukup lama vakum, program Cerita di Kebon akhirnya kembali digelar dengan edisi yang lebih kaya dan mendalam. Kali ini, melalui tajuk “Niti Lampah Kotagede”, acara akan mengajak peserta menyusuri kawasan Cepuri sambil bercengkerama tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Kotagede.
Cerita di Kebon #3 ini bukan sekadar mengulang catatan sejarah lama. Melalui percakapan santai, peserta diajak melihat lebih dalam jejak pengaruh Mataram Islam, perubahan tata ruang, serta cara masyarakat Kotagede hidup berdampingan dengan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dibahas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan bagaimana Kotagede terus dijalani, diingat, dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat saat ini.
Acara ini akan menghadirkan tiga narasumber berkompeten:
M. Yaser Arafat
Ki Supriyadi Sapta
Madha Soentoro
Ketiganya akan berbagi perspektif berbeda tentang pengalaman ruang, sejarah, dan kehidupan masyarakat Kotagede yang terus tumbuh dan berkembang.
Cerita di Kebon #3 merupakan bagian dari rangkaian perayaan “Setahun Kembali ke Akar” — peringatan satu tahun perjalanan Peken Klangenan Kotagede.
Detail Acara:
Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Mei 2026
Waktu : 11.00 WIB
Tempat : Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede
Biaya : Gratis untuk umum
Acara ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Kotagede lebih dalam — baik warga setempat, pelajar, mahasiswa, maupun pecinta sejarah dan budaya. Datanglah dengan santai, siapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang penuh makna di tengah suasana kebun yang asri.
“Melalui Cerita di Kebon, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melihat Kotagede sebagai masa lalu, tapi juga sebagai ruang hidup yang terus bernapas hingga hari ini,” ujar panitia penyelenggara.
Jangan lewatkan momen langka ini. Mari datang, mendengar, dan ikut merawat ingatan serta warisan budaya Kotagede bersama.

