Events
Pendidikan Berkesadaran Generasi Bangsa
Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim terbesar di Dunia sangat mengedepankan adanya pendidikan sejak dini yang berbasis budaya. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dimana semua unsur dalam ekosistem memiliki andil dalam menyelenggarakan dan mensukseskan proses pendidikan yang berjalan. Disebut ekosistem, karena kompleksitasnya dalam proses pendidikan ini saling berpengaruh terhadap hasil. Ekosistem yang dimaksud di sini adalah: Peserta didik (siswa atau mahasiswa), orang tua, guru, sekolah, hingga pemerintah dan masyarakat.
Semua bahu membahu dalam mendukung berjalannya pendidikan yang kondusif untuk menciptakan generasi yang siap meraih masa depan. Dimana pada kesempatan ini Forum Golek Garwo Ta’aruf Indonesia (FORTAIS) Sewon Bantul bekerjasama dengan TPQ AL-Furqon Kembangputihan, Guwosari, Pajangan, Bantul didukung Latifa Jewerlly, D&D PET STORE, Angkringan Pak Ong, dan Java Videotron pada hari ini Selasa 10 September 2019 bertepatan dengan 10 Muharram 1441 H (ASYURO) mengadakan acara UMBUL DONGO ASYURO MERAJUT INDONESIA dengan tema Pendidikan Berkesadaran Generasi Bangsa bertempat di Komplek TPQ Al-Furqon Kembangputihan, Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY.
Peringatan tersebut, dilaksanakan dalam rangka “nguri-nguri” tradisi Islam Jawa yang sudah turun temurun dilaksanakan yang saat ini mulai luntur dan ditinggalkan generasi muda. Sesuai dengan tema ada 23 yatim dan 80 santri yang mendapatkan bingkisan alat tulis. Khusus anak yatim mendapatkan : liontin, sepasang ayam jawa dan jam tangan, dengan harapan dapat lebih bermanfaat ke depannya. Sebelumnya telah dilakukan parenting untuk anak yatim dan orang tuanya agar mempunyai kesiapan untuk menyongsong masa depan.
Ekosistem yang supportif akan membentuk peserta didik yang berhasil secara karakter dan akademis. Namun sebaliknya, ekosistem yang pesismis mematikan potensi-potensi peserta didik. Oleh karena itu diperlukan kesadaran dalam melaksanakan pendidikan. Tidak hanya tentang mengejar nilai akademis semata, namun juga menyentuh mereka yang terdekat dari anak, yaitu orang tua, sehingga fokusnya tidak hanya pada anak, namun bagaimana orang tua memahami dan tau pola pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Tidak hanya itu, kesadaran mereka tentang hidup arif berdampingan dengan sekitar serta sadar dengan segala konsekuensi dari setiap kebiasaan juga merupakan cerminan dari karakter yang kuat. Diharapkan dari pendidikan yang berkesadaran ini, terbentuklah generasi dengan karakter yang kuat, mampu berempati, serta siap menyambut masa depan.
Acara diawali dengan ritual do’a bersama pembacaan Al-Fatihah, Asm’aul Husna, dan Sholawat Nabi dan do’a Asyuro lalu dilanjutkan pemotongan Tumpeng dan Jenang Suro yang diberikan kepada anak yatim oleh RM. Ryan Budi Nuryanto, SE selaku Ketua Golek Garwo Fortais bersama pengasuh TPQ Al-Furqon Gus Zusron Sya’roni, S.I.P. Kami gelar ritual doa bersama dengan anak Yatim dan Santri untuk Indonesia lebih maju sejahtera dan biasanya doa mereka lebih manjur kata RM. Ryan Budi Nuryanto, SE selaku ketua Panitia.
Selain itu juga disisipkan doa untuk warga Papua dan dilanjutkan pemberian santunan ke anak yatim dan santri juga santunan ke orang tua oleh para Donatur. Dan acara ditutup dengan menuliskan cita-cita dan permohonan Kedamaian Keutuhan NKRI yang dikaitkan pada balon warna-warni yang dilepas ke udara. Sebagai symbol do’anya sampai ke langit dan insyaalloh dikabulkan Alloh SWT dalam rangka Merajut Indonesia dengan momentum Peringatan Asyuro ini.
Nampak keceriaan ratusan anak yang hadir didampingi orang tua bermain odong-odong sambil menikmati angkringan khas Jogjakarta. Hadir pada kesempatan ini Pak Dukuh dan pak RT se- Kembangputihan, para Ustad / Ustadzah dan Donatur. Nampak Dibran Putra (3 th) dan Ali Murtadlo (11 th) yatim desa Guwosari bersama ibunya bersama Adib (10 th) santri TPQ dan ratusan santri lainnya asik bermain odong – odong dan permainan memancing ikan sebagai wujud kemeriahan Lebarannya Anak Yatim sekaligus wahana edukasi
Events
Media Lokal Didorong Adaptif Hadapi Transformasi Digital Tanpa Tinggalkan Etika Jurnalistik
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Arus berita yang bergerak sangat cepat menuntut media untuk mampu beradaptasi, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik sebagai fondasi kepercayaan publik.
Sebagai upaya memperkuat daya saing media lokal di era digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menggelar Workshop Media Lokal Berkelanjutan di Isvara Riverside, Sleman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Farida Dewi Maharani, mengatakan kemajuan teknologi telah menggeser pola konsumsi informasi masyarakat. Kehadiran berbagai platform digital membuat siapa pun kini dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
Menurutnya, kondisi tersebut membawa tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu akurat sehingga masyarakat semakin sulit membedakan berita yang benar dengan hoaks. Karena itu, media dituntut tidak hanya cepat menyajikan informasi, tetapi juga memastikan setiap berita telah melalui proses verifikasi.
Farida menegaskan kepercayaan publik merupakan modal utama media. Di tengah algoritma platform digital yang cenderung mengutamakan konten sensasional, media harus tetap menjaga integritas dan profesionalisme agar loyalitas pembaca tetap terpelihara.
Ia juga melihat perubahan algoritma digital membuka peluang bagi media lokal karena konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah kini semakin mendapat ruang. Keunggulan media lokal dalam memahami karakter, budaya, dan persoalan masyarakat dinilai menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan.
Pemerintah mendorong media lokal memperkuat kapasitas newsroom, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mengembangkan distribusi multiplatform, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh mengurangi nilai-nilai dasar jurnalistik. Media profesional tetap harus menjunjung Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, proses penyuntingan, dan tanggung jawab kepada publik.
Ia juga mengajak media mengembangkan jurnalisme yang tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi turut menghadirkan solusi serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pemberitaan. Melalui workshop ini, diharapkan insan media semakin siap menghadapi tantangan era digital dengan meningkatkan kualitas jurnalistik, menjaga profesionalisme, serta memperkuat kepercayaan publik agar media lokal tetap berperan sebagai pilar demokrasi.
Events
Jamasan Pusaka Kyai Nolobondo Kembali Digelar di Kebondalem Prambanan
Sleman, 08 Juli 2026 – Masyarakat Dusun Kebondalem, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kembali akan menyelenggarakan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo pada Selasa Pahing, 14 Juli 2026, bertempat di Pendopo Dukuh Kebondalem, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan budaya yang telah menjadi agenda masyarakat ini merupakan wujud pelestarian tradisi leluhur sekaligus penghormatan terhadap pusaka yang diyakini memiliki nilai sejarah dan filosofi bagi masyarakat Kebondalem. Prosesi jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penyucian diri, introspeksi, serta doa bersama dalam menyambut datangnya Tahun Baru Jawa, bulan Sura.
Acara ini terbuka bagi masyarakat dan para pecinta budaya yang ingin mengikuti prosesi jamasan. Panitia juga menyediakan layanan reservasi dengan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi pembersihan pusaka secara adat. Salah satu tim panitia, Dwi Eko Purnomo mengatakan bahwa kegiatan ini mampu menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Tradisi jamasan bukan hanya merawat benda pusaka, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.” jelasnya singkat.
Tradisi yang Sarat Makna
Dalam budaya Jawa, tradisi jamasan pusaka telah berlangsung selama ratusan tahun dan lazim dilaksanakan setiap bulan Sura. Kata jamas berarti memandikan atau membersihkan. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan logam pusaka. Prosesi biasanya diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembersihan pusaka menggunakan air, jeruk nipis, air bunga, hingga pemberian minyak sebagai bagian dari perawatan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian lahir dan batin serta ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Melestarikan Warisan Budaya Lokal
Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo di Dusun Kebondalem menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya lokal di wilayah Prambanan. Selain menjaga eksistensi pusaka yang diwariskan secara turun-temurun, kegiatan ini juga menjadi media mempererat silaturahmi antarwarga, pegiat budaya, dan pemerhati sejarah. Melalui penyelenggaraan rutin setiap tahun, masyarakat berharap tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman serta mampu menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi lokal Sleman kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi jamasan, panitia menetapkan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka. Kontribusi tersebut sudah mencakup seluruh fasilitas selama kegiatan, antara lain prosesi jamasan pusaka, jasa penjamas (tukang jamas) tanpa biaya tambahan, seluruh perlengkapan dan bahan jamasan, konsumsi makan dan minum, serta wedaran pamor dan pembahasan mengenai karakter, filosofi, serta perawatan pusaka yang disampaikan langsung oleh Empu Keris Yogyakarta. Dengan fasilitas tersebut, peserta tidak hanya memperoleh perawatan pusaka secara tradisional, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap pusaka.
Events
Menelusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Kotagede
Setelah cukup lama vakum, program Cerita di Kebon akhirnya kembali digelar dengan edisi yang lebih kaya dan mendalam. Kali ini, melalui tajuk “Niti Lampah Kotagede”, acara akan mengajak peserta menyusuri kawasan Cepuri sambil bercengkerama tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Kotagede.
Cerita di Kebon #3 ini bukan sekadar mengulang catatan sejarah lama. Melalui percakapan santai, peserta diajak melihat lebih dalam jejak pengaruh Mataram Islam, perubahan tata ruang, serta cara masyarakat Kotagede hidup berdampingan dengan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dibahas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan bagaimana Kotagede terus dijalani, diingat, dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat saat ini.
Acara ini akan menghadirkan tiga narasumber berkompeten:
M. Yaser Arafat
Ki Supriyadi Sapta
Madha Soentoro
Ketiganya akan berbagi perspektif berbeda tentang pengalaman ruang, sejarah, dan kehidupan masyarakat Kotagede yang terus tumbuh dan berkembang.
Cerita di Kebon #3 merupakan bagian dari rangkaian perayaan “Setahun Kembali ke Akar” — peringatan satu tahun perjalanan Peken Klangenan Kotagede.
Detail Acara:
Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Mei 2026
Waktu : 11.00 WIB
Tempat : Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede
Biaya : Gratis untuk umum
Acara ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Kotagede lebih dalam — baik warga setempat, pelajar, mahasiswa, maupun pecinta sejarah dan budaya. Datanglah dengan santai, siapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang penuh makna di tengah suasana kebun yang asri.
“Melalui Cerita di Kebon, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melihat Kotagede sebagai masa lalu, tapi juga sebagai ruang hidup yang terus bernapas hingga hari ini,” ujar panitia penyelenggara.
Jangan lewatkan momen langka ini. Mari datang, mendengar, dan ikut merawat ingatan serta warisan budaya Kotagede bersama.

