Connect with us

Events

INDONESIA BARU: KUTAI

Published

on

Sebuah Tulisan Opini Wojtylla Danditya Geharnoto
Alumni Kolese De Britto Yogyakarta Angkatan 2018

Menghadirkan Indonesia Baru. Sebuah sinyal kerinduan yang ditangkap oleh Joko Widodo presiden terpilih periode 2019-2014 seiring dilantiknya para menteri Kabinet Indonesia Maju.

Bangsa Indonesia adalah negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk 267 juta jiwa dimana lebih dari 68% total populasi merupakan usia produktif (Bappenas, 2019). Selain beragam budaya, suku, bahasa, budaya, adat, kepercayaan dan ras, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam. Secara geografis Indonesia terletak pada garis ekuator, dan hanya memiliki 2 musim; seringkali dijuluki sebagai negeri “Gemah Ripah Loh Jinawi”, Zamrud Khatulistiwa. Koes Plus mengistilahkan sebagai “Kolam susu”. Namun ironisnya, secara kolektif Indonesia seringkali merasa inferior dan rindu untuk mampu tampil di panggung dunia. Energi kerinduan itu dapat terlihat ketika masyarakat Indonesia sangat haus kemenangan setelah timnas sepakbola senior Indonesia menelan 3 kekalahan beruntun dalam rangka seleksi Piala Dunia 2022. Kita juga seringkali merasakan frustasi dan lelah mendengarkan berita kekacauan dan ketertinggalan. Kasus-kasus korupsi tiada henti merajalela di semua lini, kasus ujaran kebencian karena perbedaan pandangan bertebaran, berita budaya literasi kita yang sangat rendah. Miris rasanya.

Tetapi bukan berarti tidak ada harapan. Agustus lalu kita terpukau dengan kehadiran film karakter Gundala di layar bioskop. Rapper diaspora Rich Brian telah membanggakan dengan karya musiknya yang kian melambung tinggi di industri musik Amerika Serikat. Ingatan kita masih segar, dengan megahnya Opening Ceremony Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno; kita dipertontonkan tarian, musik, dan budaya Nusantara yang mempesona. Harapan semakin menggebu ketika Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021. Bangsa Indonesia merasakan sebuah energi sangat besar untuk dapat mempresentasikan diri dan menghadirkan Indonesia maju. Sebelum melangkah ke depan, perlu kita refleksikan apa jati diri Indonesia yang sebenarnya.

Gen Toleransi

NKRI sejauh ini telah berdiri selama 74 tahun. Sementara DNA Nusantara sudah eksis semenjak ribuan tahun lalu saat jaman Majapahit. Roh toleransi dalam keberagaman dirumuskan oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 dengan frasa “Bhinneka Tunggal Ika”. Roh yang juga mendorong terwujudnya NKRI karena toleransi itulah yang menyatukan wilayah-wilayah di Nusantara. Toleransi yang besar tercermin dalam gagasan genius memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di dalam Sumpah Pemuda; bukan Bahasa Jawa yang dipilih walaupun kala itu suku Jawa merupakan suku terbesar. Semangat ini mendorong terpilihnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang digenggam erat Garuda Pancasila. Gen toleransi bukanlah hasil rekayasa melainkan sebuah nilai intrinsik Indonesia. Indonesia lahir karena toleransi, dan Indonesia akan musnah bila tidak ada toleransi.

Budaya Literasi dan Korupsi

Sayangnya, sampai saat ini gen toleransi tersebut masih sulit dikonversikan menjadi keunggulan di mata dunia. Ada dua kelemahan utama yang berkontribusi. Pertama, tingkat literasi yang rendah. Dalam survei UNESCO tahun 2016, dari 61 negara Indonesia berada di peringkat 60. Dampak literasi yang rendah adalah mudahnya mempercayai hoax, berita yang tidak valid, jatuh dalam permusuhan dan ujaran kebencian. Tanpa adanya kemampuan berpikir kritis, maka kreativitas dalam berkarya juga tidak akan terdukung.

Kedua, korupsi di Indonesia yang melilit erat dalam berbagai dimensi, menyebabkan lingkaran setan antara korupsi dan rendahnya profesionalisme. Transparency International Indonesia merilis, dalam tahun 2018 Indeks Persepsi Korupsi Indonesia menempati peringkat 89 dari 180 negara. Korupsi dan budaya instan menjadikan nilai-nilai penting dalam berkarya, seperti kejujuran, disiplin dan etos kerja hilang. Budaya literasi yang rendah dan korupsi membuat bangsa Indonesia seolah-olah frustasi, terjebak dalam kubangan kegelapan.

Namun demikian, dengan semua potensi yang ada, harapan tidak boleh sirna. Kita dapat sedikit menengok ke beberapa negara besar lain yang memahami kekuatan sebuah identitas negara, budaya dan peran teknologi.

Pop Culture

Ketika kita membicarakan Korea Selatan, selain perusahaan elektronik Samsung maka orang tidak lagi asing dengan Korean Wave yang telah dimulai semenjak populernya lagu Gangnam Style diseluruh dunia. Gelombang budaya populer ini memuncak ketika group boyband korea BTS menempati posisi pertama di Billboard 200 chart dengan album mereka Love Yourself: Tear. Bahkan sempat ada istilah “the BTS effect” karena dampak economy value per tahun ke negaranya yaitu sekitar 3.54 milyar US dollar (berdasarkan Hyundai Research Institute tahun 2018).

Sejauh 926 km ke timur dari pulau Korea, terdapat sebuah negeri matahari terbit, Jepang. Jepang sangat terkenal akan peradaban kebudayaannya yang secara harmonis dipelihara dengan seksama dan sangat menyatu dengan gaya hidup modern masyarakat Jepang. Mulai dari makanan tradisional sushi, olahraga beladiri sumo, hingga kartun khas Jepang anime yang berdampak besar pada sektor perekonomian. Spirit Bushido menjiwai kemajuan Jepang.

Industri perfilman Amerika Serikat juga merupakan contoh betapa budaya populer mampu memberikan kontribusi sektor industri ekonomi kreatif yang sangat masif. Sebagai contoh, film Black Panther (2018) yang menceritakan superhero bertemakan Afrika Utopis, mampu meraup 1 milyar US dollar di box office global. Bahkan, ada trend di film Hollywood untuk menggunakan kultur asia sebagai pintu baru seperti film The Crazy Rich Asian (2018) dan dua film mendatang Mulan (2020) dan film marvel Shang-Chi (2021).

Dari Korea Selatan dan Jepang ada pembelajaran bahwa mempertahankan identitas budaya suatu negara dapat dilakukan melalui sebuah produk tingkatan baru yaitu budaya populer. Betul, Indonesia futuristik secara jelas masih sulit didefinisikan. Namun barangkali, secara imajinatif kita bisa membayangkan Indonesia futuristik seperti layaknya “Wakanda” dalam film Black Panther di pedalaman sub-hara afrika dimana kultur dengan teknologi bersatu padu tetapi tetap mempertahankan local wisdom.

Indonesia Futuristik

Kita mengetahui bahwa Wakanda hanyalah sebuah negeri fiksi. Akan tetapi, ketika kita melihat kostum-kostum etnik yang berbahan vibranium, mendengarkan musik trap yang digabungkan dengan musik etnik Afrika, dan desain arsitektur rumah etnik yang futuristik mendadak kita merasakan sebuah resonansi kuat dengan Afrika yang sekarang. Hal ini dapat dijelaskan karena pada saat melihat Wakanda sebenarnya kita sedang melihat esensi keragaman kultur Afrika.

Kultur unik, diambil esensi, dan dijadikan fundamen dalam medium baru. Inilah kunci. Ambil contoh produk futuristik di Indonesia adalah lagu “Sayang” yang dinyanyikan Via Vallen pada Indonesian Choice Awards 5.0 NET 2018 dan telah ditonton oleh 27,8 juta orang di Youtube. Dengan aransamen modern dan tetap mempertahankan suara khas gendang, lagu dangdut itu terasa mewah dan modern karena dibawakan dengan pakaian jas serta ditambahkan lirik rap oleh Boy William. Jumlah penonton video rekaman live lagu ‘Sayang” jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan video musik grup korea dengan berbudget tinggi NCT 127 “Superhuman” dan WayV “Regular” yang masing-masing ditonton tidak lebih dari 25 juta penonton. Ini merupakan salah satu bukti betapa superiornya kebudayaan komunal Indonesia bila dihadirkan sebagai sebuah produk kultur yang bertemu dengan teknologi modern. Begitu juga Gojek. Kebiasaan ojek lokal yang lazim dimanfaatkan masyarakat Indonesia secara komunal, dipadukan dengan teknolog dapat merevolusi perilaku ekonomi jutaan penduduk Indonesia. Benar seperti yang dikatakan oleh Jack Ma pendiri Alibaba bahwa dimana ada keluhan disitu ada peluang.

Bisa dibayangkan apabila esensi dan filosofi batik dapat dikreasikan dengan bahan yang senyaman kaos t-shirt dengan desain minimalis, layaknya kostum futuristik di film Tron: Legacy, misalnya, maka tidak akan terbayangkan nilai ekonomisnya. Salah satu fashion designer asal Indonesia, Rinaldy Yunardi, dalam Dewi Fashion Knights pada Jakarta Fashion Week 2019, memperlihatkan kostum-kostum “The Faces”yang agung dan ajaib seperti layaknya sebuah karakter di masa depan.

Pendidikan

Salah satu cara untuk mewujudkan Indonesia baru yang futuristik adalah dengan melalui pendidikan. Sir Ken Robinson pembicara TED TALK “Do Schools Kill Creativity” yang telah ditonton 380 juta orang dari 160 negara mencetuskan bahwa pendidikan seharusnya bukan sebuah sistem mekanik tapi sebuah sistem manusia yang menghormati dan memelihara kreativitas. Guru yang sangat dihormati berperan sebagai penyala api rasa keingintahuan setiap siswanya untuk terus belajar. Keingintahuan merupakan sumber kreativitas. Hal ini didukung oleh riset Hardy dan kawan-kawan tahun 2017 yang berjudul “Outside the box: Epistemic curiosity as a predictor of creative problem solving and creative performance” yang menyebutkan bahwa general curiosity memicu tingkat kreativitas yang lebih tinggi. Jika api ini selalu dipelihara, maka rasa penasaran akan membuat kita menikmati belajar hal yang baru dan topik yang tidak dikenal atau konsep abstrak.

Dalam frame Indonesia, perlu digali lebih dalam keanekaragaman kultur untuk menemukan esensi kultur itu. Esensi kultur kemudian butuh diterapkan pada kreasi produk baru. Melestarikan budaya Indonesia namun dalam wujud baru. Kreativitas yang diinjeksikan dalam kondisi pluralitas Indonesia melalui sarana teknologi akan dapat mengakselerasi terwujudnya Indonesia baru. Tentu diperlukan semangat dan dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Indonesia Maju

Dipilihnya orang-orang yang mampu menangkap esensi kultur Indonesia, seperti Nadiem Makarim, Wishnutama, dan Erick Thohir dalam kabinet Indonesia Maju Joko Widodo sejalan dengan kerinduan untuk menghadirkan Indonesia baru di level dunia.

Firasat Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan maju sepertinya dapat terwujud dengan adanya sinyal simbolik perpindahan ibukota lama Jakarta ke ibukota baru Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Identitas bangsa Indonesia yang penuh toleransi serta keanekaragaman budaya dalam skala komunal yang masif, mestinya menjadi lautan harta karun tak ternilai. Dengan mengedepankan rasa ingin tahu dan kreativitas, kita dipanggil untuk mengeksplorasi, menemukan esensi kultur Indonesia, memadukannya dengan teknologi, demi peradaban Indonesia yang maju.

 

 

 

 

 

Continue Reading

Events

Menelusuri Jejak Sejarah dan Kehidupan Kotagede

Published

on

By

Setelah cukup lama vakum, program Cerita di Kebon akhirnya kembali digelar dengan edisi yang lebih kaya dan mendalam. Kali ini, melalui tajuk “Niti Lampah Kotagede”, acara akan mengajak peserta menyusuri kawasan Cepuri sambil bercengkerama tentang sejarah dan kehidupan masyarakat Kotagede.

Cerita di Kebon #3 ini bukan sekadar mengulang catatan sejarah lama. Melalui percakapan santai, peserta diajak melihat lebih dalam jejak pengaruh Mataram Islam, perubahan tata ruang, serta cara masyarakat Kotagede hidup berdampingan dengan warisan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Yang dibahas bukan hanya peninggalan fisik, melainkan bagaimana Kotagede terus dijalani, diingat, dan dihidupkan dalam keseharian masyarakat saat ini.
Acara ini akan menghadirkan tiga narasumber berkompeten:

M. Yaser Arafat
Ki Supriyadi Sapta
Madha Soentoro

Ketiganya akan berbagi perspektif berbeda tentang pengalaman ruang, sejarah, dan kehidupan masyarakat Kotagede yang terus tumbuh dan berkembang.
Cerita di Kebon #3 merupakan bagian dari rangkaian perayaan “Setahun Kembali ke Akar” — peringatan satu tahun perjalanan Peken Klangenan Kotagede.
Detail Acara:

Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Mei 2026
Waktu : 11.00 WIB
Tempat : Kampung Pusaka Beteng Cepuri, Kotagede
Biaya : Gratis untuk umum

Acara ini sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Kotagede lebih dalam — baik warga setempat, pelajar, mahasiswa, maupun pecinta sejarah dan budaya. Datanglah dengan santai, siapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang penuh makna di tengah suasana kebun yang asri.

“Melalui Cerita di Kebon, kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melihat Kotagede sebagai masa lalu, tapi juga sebagai ruang hidup yang terus bernapas hingga hari ini,” ujar panitia penyelenggara.

Jangan lewatkan momen langka ini. Mari datang, mendengar, dan ikut merawat ingatan serta warisan budaya Kotagede bersama.

Continue Reading

Events

Membaca Ulang Lahirnya Indonesia yang Inklusif dan Kritis

Published

on

By

Sejumlah akademisi, penulis, dan aktivis berkumpul dalam forum Dialog Republik: Lahirnya Negara Indonesia yang diselenggarakan di Ballroom University Club UGM, Kamis (30/4/2026).

Diskusi yang diprakarsai Forum 2045 bersama Dewan Guru Besar UGM, LAB45, Nalar Institute, dan Institut Harkat Negeri ini membahas sejarah sebagai pembacaan kritis terhadap pembentukan, ingatan, dan praktik republik Indonesia saat ini.

Para pembicara menekankan bahwa persoalan republik tidak hanya bersifat politik, melainkan juga menyangkut cara pengetahuan dan konstruksi sejarah dibangun.

Pinurba Parama Pratiyudha selaku Ketua Forum 2045 membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan ‘titik nol’ Indonesia yang melampaui kemerdekaan politik, mencakup pula kemerdekaan ekonomi, ekologi, dan epistemologi.

Ia menyoroti pentingnya memahami peristiwa tersebut secara menyeluruh, termasuk peran Ibu Fatmawati dalam menjahit Bendera Merah Putih yang sering terlupakan dari ingatan kolektif.

Sementara itu, Prof. Muhammad Baiquni, Ketua Dewan Guru Besar UGM, menekankan perlunya membangun masa depan bangsa dengan mengintegrasikan kecerdasan, nurani, dan kepedulian lingkungan. “Solidaritas dengan hati menjadi pilar agar Indonesia bisa bangkit,” ujarnya.

Dra. Jaleswari Pramodhawardani, Kepala LAB45, menyatakan bahwa proklamasi bukan peristiwa yang selesai, melainkan proses berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan dalam republik berasal dari rakyat dan harus dipertanggungjawabkan.

Mengutip Hannah Arendt, Jaleswari menegaskan bahwa kekuasaan lahir dari pluralitas, sementara kekerasan muncul saat kekuasaan kehilangan legitimasi. Ia menambahkan pentingnya menjaga ruang kritik sebagai mekanisme demokrasi.

Prof. Alimatul Qibtiyah dari UIN Sunan Kalijaga melengkapi dengan perspektif bahwa proklamasi melibatkan tindakan verbal, simbolik, dan struktural, serta menyerukan pembacaan yang lebih inklusif dengan memasukkan keadilan gender dan kelompok terpinggirkan.

Dosen Fisipol UGM Milda Longgeita Br. Pinem menyoroti kecenderungan sejarah yang hanya mengingat tindakan formal seperti pembacaan teks proklamasi, sementara mengabaikan kerja-kerja nyata yang mendukungnya, termasuk penjahitan bendera oleh perempuan.

“Teks menyatakan kemerdekaan, tetapi bendera yang dijahit membuat kemerdekaan menjadi tampak,” katanya.

Penulis Okky Madasari menambahkan bahwa pemaknaan proklamasi saat ini mengalami depolitisasi dan kekurangan keberanian politik. Ia menyoroti pelemahan demokrasi dan kebebasan berekspresi, serta mendesak agar proklamasi dimaknai kembali sebagai upaya mengembalikan kedaulatan rakyat.

Diskusi ditutup dengan kesepakatan para pembicara bahwa tantangan utama bukan kurangnya pengetahuan sejarah, melainkan bagaimana menghidupkan makna republik dalam kehidupan sehari-hari.

Jaleswari menekankan peran generasi muda untuk terus mengawal praktik bernegara. “Republik bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi sesuatu yang harus terus diulang,” ujarnya. Forum ini menegaskan bahwa membaca ulang republik merupakan tindakan penting untuk menjaga nilai keadilan dan memperkuat masyarakat sipil dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia saat ini.

Continue Reading

Events

Warning Gen Z! Skill Menjahit & Masak Bisa Bikin Kamu Punya Side Hustle

Published

on

By

Pada Senin (6 April 2026), UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Bantul resmi membuka dua pelatihan Mobile Training Unit (MTU) yang super praktis: Menjahit di Wirokerten, Banguntapan, dan Tata Boga di Srimulyo, Piyungan.

Gak perlu nunggu lama atau biaya mahal. Program ini pure buat ningkatin kompetensi anak muda dan masyarakat supaya lebih mandiri, bisa buka usaha sampingan, bahkan jadi content creator fashion atau kuliner yang aesthetic di TikTok & Instagram.

Detail Pelatihan yang Wajib Dicatet:

Pelatihan MTU Menjahit
Tanggal: 7 April – 12 Mei 2026 (sekitar 5 minggu full action)
Tempat: Pusdiklat Mulia, Kepuh Kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul
Peserta: 16 orang (kelas intim, beneran hands-on)

Pelatihan MTU Tata Boga
Tanggal: 9 April – 7 Mei 2026
Tempat: Bangsal Pasca Panen Berkah Jaya, Jombor, Srimulyo, Piyungan, Bantul
Peserta: 16 orang

Pembukaan di Piyungan dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T., Panewu Piyungan, Kepala UPTD BLK Bantul, dan Lurah Srimartani. Sementara di Wirokerten, Bp. Agus Sofwan selaku Wakil Ketua Komisi D DPRD Bantul ikut hadir bareng Kepala Disnakertrans dan jajaran lainnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Bantul menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar belajar teori, tapi langsung skill aplikatif yang bisa dipakai buat menciptakan peluang usaha mandiri. “Kami ingin anak muda Bantul punya bekal nyata untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan desa,” ujar Bp. Agus Yuli Herwanta, S.T., M.T. .

Kenapa Harus Ikutan?
Di era digital sekarang, skill menjahit bisa jadi modal bikin custom hoodie, hijab kekinian, atau bahkan brand fashion lokal. Sementara Tata Boga? Bisa langsung bikin konten mukbang, jualan catering aesthetic, atau buka kedai kopi-dessert yang hits di kalangan Gen Z.

Sekedar informasi, Pelatihan MTU merupakan program yang dilaksanakan berdasarkan pengajuan proposal langsung dari masyarakat atau kelompok masyarakat. Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik dan keinginan warga dalam meningkatkan kompetensi keterampilan sesuai dengan permintaan yang diajukan.

Sementara itu, pelatihan untuk masyarakat umum yang tidak melalui proposal kelompok diselenggarakan melalui program pelatihan institusional. Pelatihan institusional tersebut direncanakan akan dimulai pada sekitar bulan Juni 2026. Materi pelatihan yang akan diberikan meliputi bidang administrasi, otomotif, serta teknisi handphone.

Info lebih lanjut tentang program bisa datang ke UPTD BLK Bantul di Jalan Jenderal Sudirman No.1, Babadan, Bantul, Kapanewon Bantul, Kabupaten Bantul

Continue Reading

Trending