Home Events Pembukaan Pameran Perupa Timbul Raharjo

Pembukaan Pameran Perupa Timbul Raharjo

95
0
SHARE

ekbizz.com – Masa pandemi covid-19 membuat pelaksanaan pameran harus memenuhi kaidah protokol covid-19. Metode pelaksanaan pameran dilakukan on dan off line melalalui berita di dunia maya serta dapat dilihat secara off line di Sonobudoyo. Pameran digelar mulai tanggal 30 Agustus sampai 13 September 2020 di Sonobudoyo Yogyakarta, bertema Me Myselft & I dengan sub-tema Transvestite arts.

Bermaksud memamerkan karya seni rupa arca dan lukisan kanvas karya Timbul Raharjo. Kuratorial dilakukan dengan metode autokurasi, yakni penciptaan, pemilihan, dan pelaksanaan pameran termasuk wacananya dilakukan berdasarkan idea perupanya (Timbul Raharjo). Tema Me Myselft & I terdiri dari tiga kata yang bermakna sama yakni “keakuan” bertendensi subjektif dan berbahaya bagi perkembangan seni rupa, sebab dalam diri seseorang tentu belum tentu memiliki kekuatan dalam berbagai bidang dalam mencipta dan mewacanakannya.

Sedangkan transvestite adalah nilai karya dalam proses penciptaan mulai dari penentuan idea sampai pada fungsi karya itu mau dibawa ke mana. Tranvestatite yang berati waria ini sebagai kata asosiatif yang digunakan dalam penjelasan proses kreasi dalam berkarya Timbul Raharjo. Timbul Raharjo membuka kran kritik tentang karya-karyanya, bermaksud pula membangkitkan budaya kritik seni rupa Indonesia yang meantrem dan linier. Timbul Raharjo menyampaikan bahwa “ungkaplah kejelekan karya saya, karena kebaikan adalah semu dan sering diucapkan oleh orang-orang yang secara baik kita kenal dan pasti nir-konflik, namun sampaikanlah kekurangannya agar aku menyadarinya, maka budaya kritik bisa terlahir kembali”.

Terjadi perdebatan antara pewacana dan pencipta, pewacana tidak memahamai bagaimana rasanya mencipta, demikian pula sebailiknya. Dalam pameran ini komunikasi antar mereka dibuat lebih terbuka tidak linier dan statis. Bagus tidaknya sebuah karya seni tetap hasil ciptaan seseorang perupa yang subjektif dan cerminan kapasitasnya.

Pola kritik seni ini sebaiknya dianggap lumrah agar perkembangannya seni rupa Indonesia berkualitas baik. Kita musti tahu kelemahan kita dan keunggulan kita, kita tahu pewacana yang baik, kita tahu karya terkonsep baik seperti apa, bahkan karya yang laku seperti apa. Transvestite arts yang berarti seni banci atau waria arts, adalah ungkapan asosiasitif. Ini sebagai penjelasan penciptaan karya Timbul Raharjo dalam pameran ini.

Karya dapat masuk ke fine art dan aplied art, atau masuk dalam posisi diantara keduanya, maka seni ini tidak berkelamin sebab bingung menentukannya karena memang tidak diketahui jenis kelaminnya. Namun justru menariknya, karya ini kemudian memiliki felksibelitas yang baik masuk dalam ceruk budaya dan pasar manapun, bersifat transvestite dan lintas budaya dan pasar.