Events
Tekad Jas Merah Gelorakan Edukasi Sejarah
www.ekbizz.com – Proses pembangunan sosial seyogyanya tetap berpijak pada akar pondasi kesejarahan yang telah dirintis dan diletakkan oleh para pendahulu bangsa sehingga dengan demikian keberlangsungan peradaban selaras dengan nilai-nilai filosofi dasar Hamemayu Hayuning Bawono. Demikian salah satu rangkuman dalam diskusi perdana pembentukan Jaringan Sejarawan Merah Putih (JAS MERAH) yang berlangsung Minggu petang 11 April 2021 di kediaman pribadi Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi.
Hadir Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Prof. Dr. Inajati Adrisijanti, Peneliti Bahasa dan Budaya Jawa Kuna dan Asia Selatan KRT. Manu J. Widyaseputra M.A, sejarawan Universitas Sanata Darma Yogyakarta Dr. Baskara T. Wardaya, SJ, dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Surakarta Aan Ratmanto, M.A, dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma F. Galih Adi Utama, S.S., M.A, Direktur Galangpress Yogyakarta Yulius F. Tualaka, pendiri museum Rumah Garuda yang juga dosen Jurusan Film dan Televisi Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Nanang Rakhmad Hidayat S.Sn. M.Sn, Pendiri Yayasan Rumah Studi Jawa “Makara Dhvāja Sura” Yogyakarta Radityo Krishartanto serta ketua Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra.
GKR. Mangkubumi mengatakan dengan massifnya proses pembangunan insfratruktur di Daerah Istimewa Yogyakarta seperti rencana pembangunan jalan tol dan jalur lintas selatan pihak Kraton Yogyakarta berupaya melakukan perlindungan dan penataan berbagai situs, petilasan kuno, pesanggrahan serta berbagai destinasi lain yang terkait dengan warisan sejarah termasuk menjaga kelestarian gunung Merapi, sungai-sungai hingga pesisir selatan.
GKR. Mangkubumi mengaku mendapat tugas khusus dari ayahandanya Sri Sultan Hamengku Buwono X agar ruang-ruang kesejarahan itu dapat dikembalikan lagi seperti dulu atau diupayakan semaksimal mungkin tidak semakin mengalami kerusakan. Ia mencontohkan pembangunan pagar yang mengelilingi Alun-Alun Utara sesungguhnya telah dirancang sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono l. Sempat akan dibangun di era Sri Sultan Hamengku Buwono V. Namun belum sempat dibangun. “Kami di kraton menyimpan dokumen sketsanya yang dibuat Eyang Sinuwun Kaping l ,” katanya.
Kraton Yogyakarta juga menaruh perhatian besar atas maraknya aktivitas penambangan di kawasan gunung Merapi. Pihaknya tidak ingin ekosistem Merapi baik flora dan fauna termasuk sumber-sumber air mengalami kerusakan. Untuk itu dirinya mengaku intens berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai juga pemangku kebijakan di sisi utara kawasan gunung Merapi agar kedepan kelestarian alam Merapi dapat lebih terpelihara.
Hal lain yang tengah diupayakan Kraton adalah mengembalikan kawasan alas bunder dan wanagama di Gunung Kidul sebagai fungsi hutan lindung. Dikatakan bahwa disana terdapat banyak situs sejarah yang wajib dijaga kelestariannya. Termasuk pihaknya juga mewanti-wanti agar semua pihak tidak mudah memangkas dan atau meratakan pegunungan-pegunungan di kawasan kars pegunungan sewu.
Sementara Prof. Dr. Inajati Adrisijanti mengungkapkan keprihatinannya tentang situs Kraton Kerto dan Plered. Kawasan Segoroyoso yang dulunya merupakan laut buatan kini telah berubah dan bahkan tanggul setinggi empat meter kini lenyap karena diambil untuk berbagai keperluan.
Kraton Plered menurutnya merupakan kraton yang secara arsitektural sangat luar biasa dan sulit dicari perbandingannya. Mulai dari tata pemukiman, tata air dan lain sebagainya. Menurutnya situs Plered sudah masuk dalam program perlindungan cagar budaya nasional sehingga kedepan diharapkan proses pelestarian situs dapat lebih cepat dilakukan.
Sedangkan KRT. Manu J. Widyaseputra atau akrab disapa Romo Manu mengutarakan bahwa situs percandian yang banyak ditemui keberadaannya di tanah Jawa menunjukkan bahwa peradaban kita telah sangat maju bahkan lebih hebat dibanding luar negeri. Di India misalnya yang sementara ini dianggap pusat peradaban Hindu justru disana tidak diketemukan situs percandian melainkan sebatas bangunan kuil-kuil. Sementara di Jawa situs percandian baik yang bercorak Hindu Budha dibangun dengan penuh kompleksitas dan nilai estetika sangat luar biasa hebat.
Menurut Romo Manu salah satu warisan sejarah yang menurutnya penting diajarkan kepada generasi muda adalah alasan mendasar mengapa Pangeran Mangkubumi memilih kawasan yang sekarang disebut sebagai Yogyakarta ini sebagai pusat kekuasaan Kraton.
Salah satu temuan yang ia dapati dari mempelajari naskah-naskah kuno adalah pada masa lampau situs-situs kerajaan terletak di sisi utara. Sementara di selatan atau yang sekarang wilayah Yogyakarta ini dulunya disebut sebagai “Sapta Sendawa”. Sapta artinya tujuh dan sendawa dari asal kata “sindu” yang artinya sungai. Jadi Yogyakarta dialiri tujuh sungai mulai dari Progo, Bedog, Winongo, Code, Gajah Wong, Kuning dan Opak. Ketujuh sungai ini pada masa kuno berfungsi sebagai maritim sungai dengan berbagai fungsi. Dan disepanjang aliran tujuh sungai ini terdapat banyak asrama tempat kaum Brahmana melelahkan diri.
Yogyakarta dipilih karena disini bukan wilayah kosong melainkan telah dihuni oleh kaum Brahmana yang secara turun temurun melahirkan tradisi peradaban luhur. Inilah salah satu unsur penting yang membuat Yogyakarta memiliki banyak nilai keistimewaan. “Sehingga bukan hal kebetulan jika dikemudian waktu di wilayah Yogyakarta saat ini berkembang pusat-pusat pendidikan dan dikenal orang sebagai tempat untuk belajar,” terang Romo Manu.
Sejarawan Dr. Baskara T. Wardaya menyambut baik kemunculan JAS MERAH. Dirinya sependapat bahwa perlu upaya sinergi lintas stakeholder agar nilai-nilai kesejarahan terus diedukasikan khususnya kepada generasi muda. Upaya penyelamatan warisan kesejarahan di Yogyakarta sejatinya tidak hanya penting bagi Yogyakarta saja melainkan juga bagi Indonesia bahkan dunia. “Dengan mengenali sejarah bangsa maka kesadaran untuk menjaga tegaknya Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 bakal semakin mantab,” yakinnya.
Sejarawan muda Aan Ratmanto mengemukakan pentingnya pelurusan sejarah Indonesia khususnya di era tahun 1945 hingga 1950. Pada masa itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX memegang peran sangat sentral bagi keberlangsungan NKRI. Dari arsip-arsip sejarah ditemukan fakta menarik bahwa Presiden Sukarno yang waktu itu sedang dalam masa pembuangan memberikan mandat kuasa penuh kepada Sultan HB IX untuk menjalankan roda pemerintahan transisi pada periode 1 Mei hingga 30 Juli 1949 di mana ibu kota Republik Indonesia waktu itu berada di Yogyakarta.
“Untuk menyelenggarakan pekerjaan itu, beliau kami beri kuasa sepenuhnya (plein pouvoir) untuk mempergunakan segala alat pemerintahan, yaitu tentara, polisi negara, pamong praja, dan lain-lain, pegawai yang sudah berada dan yang akan datang di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk menyelesaikan semua persoalan yang menyangkut pengembalian negara RI dari tangan Belanda,” demikian bunyi mandat Presiden Sukarno tersebut.
Di akhir tugasnya, usai Belanda menarik semua pasukan militernya dari seluruh wilayan Daerah Istimewa Yogyakarta, malam hari pada tanggal 30 Juni 1949 melalui siaran RRI, Sri Sultan HB IX menyatakan Proklamasi kemerdekaan RI untuk yang kedua kalinya. “Sayangnya fakta sejarah menarik ini belum masuk dalam materi pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah bahkan kampus-kampus. Bahkan diorama di monumen Yogya Kembali sekalipun tidak ada yang mengilustrasikan peran penting Sri Sultan HB IX. Padahal beliaulah tokoh utama peristiwa yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Yogya Kembali,” ujar Aan.
Inisiator pendiri JAS MERAH Widihasto Wasana Putra memaparkan bahwa beragam topik kesejarahan diatas kedepan akan diinventarisir dan dikaji untuk kemudian dituangkan dalam berbagai konten media audiovisual sebagai materi pembelajaran sejarah bagi semua. Sehingga proses keberlangsungan Indonesia sebagai bangsa besar serta kaya akan keberagaman ini dapat terus terjaga dan semakin kokoh. Dirinya mengajak kalangan sejarawan maupun pihak yang menaruh kepedulian serupa untuk bergerak bersama-sama.
Di akhir diskusi Baskara T. Wardaya, Yulius F. Tualaka, Aan Ratmanto dan Galih Adi Utama memberikan cinderamata berupa buku-buku sejarah hasil karya penulisan mereka kepada GKR. Mangkubumi.
Events
Dari Pasar Ngasem Sampai Prancis: YGF ke-31 Buktikan Gamelan Itu Bahasa Universal Generasi Masa Kini
Gamelan sering dianggap sebagai warisan leluhur yang kaku dan kuno. Tapi, Komunitas Gayam 16 bertekad membantah stigma itu lewat perhelatan tahunan mereka. Di usianya yang ke-31, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang akan digelar 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 mendatang benar-benar dibalut dengan nuansa yang jauh dari kesan “museum”.
Mengusung tema “Sukacita” atau Joy, festival yang masuk dalam rangkaian Bulan Warisan Dunia DIY ini ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional ini punya sisi “vibe” yang menenangkan dan membahagiakan, bukan cuma sekadar alunan instrumen pengiring wayang.
“Kami ingin kasih lihat ke generasi sekarang, bahwa main gamelan itu bisa jadi healing,” ujar Ari Wulu, Ketua Komunitas Gayam 16, saat jumpa pers di Hotel Loman Yogyakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut Ari, gamelan punya kekuatan vibrasi yang bisa bikin pikiran adem. “Kami ingin menunjukkan bahwa kegembiraan bisa lahir dari proses memainkan, mendengarkan, dan mengeksplorasi gamelan bersama. Ini bukan euforia yang bingar, tapi sukacita yang muncul dari harmoni dan kebersamaan,” tambahnya.
Yang menarik dari edisi kali ini adalah adanya sesi spesial bernama “Gamelan untuk Meditasi”. Bayangkan, biasanya kita dengerin gamelan buat ngiringi tari atau wayang, tapi di sini kamu diajak merasakan getaran genderang dan saron sebagai media meditasi. Lokakarya ini bakal digelar pada 21-22 Juli di markas Komunitas Gayam 16 dan difasilitasi oleh Gatot Danar Sulistiyanto. Cocok banget buat kalian yang lagi capek sama hiruk-pikuk perkotaan dan butuh “me time”.
Konser di Pasar Ngasem: Kolaborasi Lokal sampai Mancanegara
Puncak festival yang paling ditunggu adalah konser besar di Plaza Pasar Ngasem, Yogyakarta, pada 31 Juli hingga 2 Agustus. Yang bikin keren, di panggung sana bakal ada sekitar 16 kelompok penampil. Bukan cuma dari Jogja atau Jawa, tapi ada juga perwakilan dari Banyuwangi, Cilacap, hingga Sampang Madura, bahkan grup dari Prancis dan Belanda bakal ikut nimbrung.
“Ini membuktikan gamelan adalah bahasa universal,” tegas Ari.
Gak cuma sekadar pentas, para pelaku seniman tradisi juga bakal duduk bareng dalam forum Rembug Budaya pada 27 Juli mendatang. Di era yang serba digital ini, mereka bakal bahas soal pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) biar para musisi tradisi gak kecolongan dan karyanya punya nilai ekonomi yang jelas.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam konferensi pers, memberikan apresiasi besar. Menurutnya, gamelan adalah living heritage atau warisan hidup.
“Harus terus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bisa beradaptasi dengan zaman. Kita support banget karena sepanjang sejarahnya, YGF ini sudah melibatkan partisipasi dari 52 negara,” ungkap Dian.
Dengan rangkaian acara yang menyegarkan ini, Komunitas Gayam 16 berharap anak-anak muda bisa mulai melihat gamelan sebagai ruang berekspresi yang kekinian. Jadi, siap-siap cobain vibe baru dari gamelan di bulan Juli ini?
Events
Media Lokal Didorong Adaptif Hadapi Transformasi Digital Tanpa Tinggalkan Etika Jurnalistik
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Arus berita yang bergerak sangat cepat menuntut media untuk mampu beradaptasi, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik sebagai fondasi kepercayaan publik.
Sebagai upaya memperkuat daya saing media lokal di era digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menggelar Workshop Media Lokal Berkelanjutan di Isvara Riverside, Sleman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Farida Dewi Maharani, mengatakan kemajuan teknologi telah menggeser pola konsumsi informasi masyarakat. Kehadiran berbagai platform digital membuat siapa pun kini dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
Menurutnya, kondisi tersebut membawa tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu akurat sehingga masyarakat semakin sulit membedakan berita yang benar dengan hoaks. Karena itu, media dituntut tidak hanya cepat menyajikan informasi, tetapi juga memastikan setiap berita telah melalui proses verifikasi.
Farida menegaskan kepercayaan publik merupakan modal utama media. Di tengah algoritma platform digital yang cenderung mengutamakan konten sensasional, media harus tetap menjaga integritas dan profesionalisme agar loyalitas pembaca tetap terpelihara.
Ia juga melihat perubahan algoritma digital membuka peluang bagi media lokal karena konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah kini semakin mendapat ruang. Keunggulan media lokal dalam memahami karakter, budaya, dan persoalan masyarakat dinilai menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan.
Pemerintah mendorong media lokal memperkuat kapasitas newsroom, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mengembangkan distribusi multiplatform, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh mengurangi nilai-nilai dasar jurnalistik. Media profesional tetap harus menjunjung Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, proses penyuntingan, dan tanggung jawab kepada publik.
Ia juga mengajak media mengembangkan jurnalisme yang tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi turut menghadirkan solusi serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pemberitaan. Melalui workshop ini, diharapkan insan media semakin siap menghadapi tantangan era digital dengan meningkatkan kualitas jurnalistik, menjaga profesionalisme, serta memperkuat kepercayaan publik agar media lokal tetap berperan sebagai pilar demokrasi.
Events
Jamasan Pusaka Kyai Nolobondo Kembali Digelar di Kebondalem Prambanan
Sleman, 08 Juli 2026 – Masyarakat Dusun Kebondalem, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kembali akan menyelenggarakan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo pada Selasa Pahing, 14 Juli 2026, bertempat di Pendopo Dukuh Kebondalem, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan budaya yang telah menjadi agenda masyarakat ini merupakan wujud pelestarian tradisi leluhur sekaligus penghormatan terhadap pusaka yang diyakini memiliki nilai sejarah dan filosofi bagi masyarakat Kebondalem. Prosesi jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penyucian diri, introspeksi, serta doa bersama dalam menyambut datangnya Tahun Baru Jawa, bulan Sura.
Acara ini terbuka bagi masyarakat dan para pecinta budaya yang ingin mengikuti prosesi jamasan. Panitia juga menyediakan layanan reservasi dengan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi pembersihan pusaka secara adat. Salah satu tim panitia, Dwi Eko Purnomo mengatakan bahwa kegiatan ini mampu menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Tradisi jamasan bukan hanya merawat benda pusaka, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.” jelasnya singkat.
Tradisi yang Sarat Makna
Dalam budaya Jawa, tradisi jamasan pusaka telah berlangsung selama ratusan tahun dan lazim dilaksanakan setiap bulan Sura. Kata jamas berarti memandikan atau membersihkan. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan logam pusaka. Prosesi biasanya diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembersihan pusaka menggunakan air, jeruk nipis, air bunga, hingga pemberian minyak sebagai bagian dari perawatan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian lahir dan batin serta ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Melestarikan Warisan Budaya Lokal
Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo di Dusun Kebondalem menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya lokal di wilayah Prambanan. Selain menjaga eksistensi pusaka yang diwariskan secara turun-temurun, kegiatan ini juga menjadi media mempererat silaturahmi antarwarga, pegiat budaya, dan pemerhati sejarah. Melalui penyelenggaraan rutin setiap tahun, masyarakat berharap tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman serta mampu menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi lokal Sleman kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi jamasan, panitia menetapkan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka. Kontribusi tersebut sudah mencakup seluruh fasilitas selama kegiatan, antara lain prosesi jamasan pusaka, jasa penjamas (tukang jamas) tanpa biaya tambahan, seluruh perlengkapan dan bahan jamasan, konsumsi makan dan minum, serta wedaran pamor dan pembahasan mengenai karakter, filosofi, serta perawatan pusaka yang disampaikan langsung oleh Empu Keris Yogyakarta. Dengan fasilitas tersebut, peserta tidak hanya memperoleh perawatan pusaka secara tradisional, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap pusaka.

