Events
Borneo Goes to Prambanan Jazz Virtual Festival 2021
Prambanan Jazz Festival (PJF) adalah perhelatan musik tahunan berskala internasional yang digelar di pelataran Candi Prambanan Yogyakarta. Perhelatan yang pertama kali digelar pada 16 Oktober 2015 ini memadukan festival musik jazz internasional dan warisan agung dari Candi Prambanan. Sebagaimana tahun lalu, kali ini Prambanan Jazz Festival kembali digelar dengan konsep virtual, bertajuk Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 karena kondisi di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda.
Tahun ini Prambanan Jazz Festival menggelar sebuah program yang spesial bertajuk ‘Borneo Goes to Prambanan Jazz Virtual Festival’.
Program kompetisi musik yang digagas oleh IndiHome, channel I-Konser UseeTV dan Prambanan Jazz Festival ini dimaksudkan untuk mencari musisi-musisi terbaik yang berdomisili di Kalimantan untuk tampil di Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 bersama musisi-musisi nasional pada tanggal 11-12 September 2021. Kegiatan ini diharapkan akan menjadi ajang kesempatan bagi musisi yang berdomisili di Kalimantan untuk menunjukkan karya mereka kepada khalayak luas pecinta musik tanah air. Nantinya, seluruh musisi/band pendaftar akan dikurasi oleh promotor Prambanan Jazz Festival sehingga akan didapat maksimal 100 band yang diikutsertakan dalam seleksi. Pendaftaran ‘Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival” sudah dibuka sejak 23 Juli 2021 dan akan berlangsung hingga tanggal 15 Agustus 2021.
Bakal ada 3 musisi Kalimantan yang akan menjajal panggung megah Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 dan juga tampil pada beberapa program tayangan channel I-Konser di UseeTV. Satu musisi akan dipilih langsung oleh promotor, sedangkan dua lainnya akan melalui beberapa tahapan seleksi dan kurasi oleh 3 Juri (Musisi Nasional, Promotor, Tokoh Musik Kalimantan). Karena situasi pandemi yang masih belum menentu, penjurian akan dilakukan virtual (terpisah) dengan peserta yang mengikuti seleksi.
Peserta ‘Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival’ adalah musisi/band yang berdomisili di Kalimantan yang sesuai dengan karakter festival musik. Para peserta tersebut diharuskan memiliki minimal 3 karya orisinil berupa Video Musik/Video Live Session. Pemenang yang terpilih untuk tampil di Prambanan Jazz Virtual Festival diharapkan bisa menampilkan setidaknya 4 lagu orisinil. Sebelum tampil di Prambanan Jazz Festival 2021, para musisi terpilih juga akan diikutsertakan pada acara webinar berupa Bengkel Musik dan talkshow tentang industri musik.
Proses Kompetisi Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival.
Pendaftaran ‘Borneo Goes To Prambanan Jazz’ sudah dibuka sejak 23 Juli 2021 dan akan berlangsung sampai tanggal 15 Agustus 2021. Para peserta bisa mendaftar di website www.prambananjazz.com disertai 1 video (video klip/ live session) dan persyaratan lain yang terdapat dalam formular registrasi. Peserta ‘Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival’ adalah musisi/band yang berdomisili di Kalimantan, dibuktikan cukup dengan 1 KTP dan terbuka untuk seluruh genre musik dan jenis penampil musik (solo, duo, band, dan sejenisnya) yang sesuai dengan karakter festival.
Para peserta diharapkan telah memiliki 3 karya orisinal dalam bentuk video musik (klip) atau video live session. Untuk seleksi awal 1 peserta cukup submit 1 karya. Selanjutnya Promotor akan memilih 20 band/peserta berdasarkan viewers tertinggi dan engagement YouTube (I Konser Channel) yang akan ditayangkan di I-Konser Channel (Usee TV) guna seleksi selanjutnya.
Kemudian panitia akan memilih 10 band/peserta dengan viewers terbanyak di I-Konser Channel (Usee TV) untuk ikut di babak final. Dua pemenang di Babak Final Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 akan tampil secara langsung di Prambanan Jazz Virtual Festival 2021 dengan membawakan setidaknya 4 karya orisinal.
Seluruh peserta yang mendaftar akan melalui proses kurasi oleh promotor Prambanan Jazz Festival dan akan terpilih maksimal 100 peserta terbaik. Peserta akan melalui 3 tahapan babak acara. Pada Babak 1 video peserta yang sudah disubmit akan langsung ditayangkan pada kanal youtube i-Konser Channel selama periode 6-21 Agustus 2021.
20 peserta yang lolos mengikuti Babak 2 wajib mengirimkan tambahan 2 karya orisinal dalam bentuk video dan akan ditayangkan secara terjadwal pada program i-Konser Channel UseeTV. Jadwal penayangan akan diinfokan melalui Instagram @ikonserchannel. Kemudian 10 peserta dengan viewers terbanyak di iKonser Channel (Usee TV) akan mengikuti babak final pada tanggal 7 September 2021. Babak final akan dilaksanakan secara taping melalui I-Konser Channel (Usee TV) untuk menentukan siapa yang akan tampil di Prambanan Jazz Festival 2021.
Dengan adanya ‘Borneo Goes To Prambanan Jazz Virtual Festival’ ini diharapkan akan muncul nama-nama baru dari Pulau Kalimantan yang berkilau di blantika musik Indonesia. Tidak hanya Kalimantan, nantinya seluruh daerah di Indonesia juga akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa tampil di Prambanan Jazz Festival selanjutnya , maupun tayangan tayangan di I-Konser Channel.
Events
93,5% Rumah Tangga Sudah Punya HP, Apakah Program HP Gratis Bansos Masih Urgen?
Yogyakarta — Rencana pemerintah memberikan telepon seluler (HP) gratis kepada masyarakat dalam rangka mendukung penyaluran bantuan sosial dinilai perlu dikaji ulang. Ekonom sekaligus dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D., menyebut pemerintah perlu menilai urgensi, efektivitas, serta dampak anggaran dari program tersebut.
Menurut Wisnu, persoalan inklusi keuangan dan kesenjangan digital di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh minimnya kepemilikan perangkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat 93,5 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki telepon seluler.
“Terus terang, urgensinya kurang. Masalahnya ada pada rekening yang tidak dipakai, literasi digital yang rendah, dan titik tarik tunai yang belum merata. PPATK menemukan lebih dari 10 juta rekening penerima bansos menganggur bertahun-tahun. Rekeningnya ada, HP-nya ada, tetapi tidak digunakan,” ujar Wisnu dalam keterangannya.
Anggaran Bisa Lebih Prioritas
Wisnu menilai alokasi anggaran untuk pembagian HP perlu dibandingkan dengan kebutuhan dasar masyarakat yang masih memerlukan perhatian, seperti pendidikan dasar, layanan kesehatan, dan penanganan stunting.
“Setiap rupiah untuk HP adalah rupiah yang tidak masuk ke ruang kelas yang rusak, guru honorer, puskesmas yang kekurangan tenaga, atau penanganan stunting. Kalau dibandingkan, pendidikan dasar dan layanan kesehatan memberi imbal hasil sosial jangka panjang yang jauh lebih jelas dibanding pembagian perangkat yang manfaatnya masih spekulatif,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa biaya program tidak hanya untuk membeli perangkat. Pemerintah masih perlu mengeluarkan dana untuk distribusi, aktivasi, akses internet, pemeliharaan sistem, hingga penggantian HP yang rusak atau hilang.
Sebagai ilustrasi, jika satu perangkat seharga Rp1 juta diberikan kepada 20 juta penerima, kebutuhan anggaran pengadaan saja mencapai Rp20 triliun. Bila jumlah penerima mencapai 74 juta orang, biayanya berpotensi mencapai Rp74 triliun, belum termasuk biaya pendukung lainnya.
“Program semacam ini juga cenderung menciptakan belanja berulang, bukan sekali jalan,” katanya.
HP Gratis Belum Tentu Efektif
Wisnu menyebut kepemilikan HP tidak otomatis meningkatkan produktivitas masyarakat berpenghasilan rendah. Pekerja seperti buruh tani, nelayan, dan pekerja informal lebih membutuhkan modal, keterampilan, akses pasar, serta infrastruktur yang memadai.
“HP bisa membantu kalau ada ekosistemnya, misalnya informasi harga, pemasaran daring, atau akses kredit, tetapi itu tidak muncul hanya karena perangkatnya dibagikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, sejumlah studi menunjukkan program pemberian HP atau rekening gratis kurang berdampak apabila tidak disertai pendampingan. Sebagai contoh, eksperimen rekening gratis di Malawi, Uganda, dan Chile menemukan tingkat penggunaan yang rendah serta tidak mengubah kebiasaan menabung.
Sementara itu, program pembagian smartphone di Chhattisgarh, India, menunjukkan pelatihan literasi digital yang murah justru memberikan dampak yang lebih bertahan lama.
“Jadi yang penting adalah keberlanjutan. Kalau hanya one shot, sekali bagi HP atau sekali buka rekening, efeknya akan cepat hilang,” tegas Wisnu.
Perlu Skema yang Lebih Tepat Sasaran
Apabila program tetap dilaksanakan, Wisnu menyarankan pemerintah membatasi penerima berdasarkan kebutuhan nyata. Prioritas dapat diberikan kepada rumah tangga miskin dan rentan yang terverifikasi dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya yang belum memiliki perangkat sama sekali.
“93,5 persen rumah tangga sudah punya HP, kelompok ini sebenarnya kecil sehingga anggarannya bisa jauh lebih hemat,” terangnya.
Ia juga menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan skema subsidi harga atau voucher yang dapat digunakan masyarakat untuk memilih perangkat di pasar. Menurutnya, skema tersebut lebih fleksibel dibandingkan pengadaan terpusat oleh negara.
Selain itu, Wisnu menekankan pentingnya literasi keuangan digital, akses internet yang merata, serta biaya internet yang terjangkau. Tanpa dukungan tersebut, HP gratis berisiko tidak digunakan secara optimal.
“HP gratis tidak memperbaiki data yang salah. Kalau datanya keliru, HP justru jatuh ke tangan yang tidak berhak,” ujarnya.
Wisnu menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah HP yang dibagikan. Pemerintah perlu menilai apakah rekening benar-benar aktif, bantuan sosial tersalurkan tepat waktu, dan masyarakat memperoleh manfaat nyata dari layanan digital.
“Kalau dalam satu atau dua tahun indikator-indikator itu tidak bergerak, pemerintah harus berani menghentikan atau mengubah programnya,” pungkasnya.
Events
Compagnie Kotekan Pukau Penonton YGF 2026
Musisi asal Prancis yang tergabung dalam Compagnie Kotekan memukau penonton dengan memadukan gamelan dan instrumen musik Barat dalam Konser Gamelan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) 2026. Aksi tersebut berlangsung di Plaza Ngasem, Yogyakarta, Jumat (31/7/2026).
Konser Gamelan yang menjadi bagian utama YGF 2026 ini berlangsung hingga Minggu (2/8/2026). Acara diikuti oleh musisi dari berbagai daerah di Indonesia serta sejumlah negara asing. Melalui perhelatan ini, penyelenggara ingin mengajak masyarakat merasakan kembali gamelan bukan sekadar sebagai instrumen musik, melainkan sebagai sumber sukacita, ruang kebersamaan, dan penyegaran batin.
Penampilan Compagnie Kotekan menjadi salah satu highlight hari pertama. Mereka memadukan bunyi gamelan Jawa dengan elemen musik Barat, menciptakan harmoni yang segar sekaligus tetap menghormati akar tradisi. Penonton yang hadir di Plaza Ngasem tampak antusias menyaksikan kolaborasi lintas budaya tersebut.
Yogyakarta Gamelan Festival 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai ajang pertemuan seniman gamelan dari dalam dan luar negeri. Selain konser, festival ini juga menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan generasi muda dengan warisan musik tradisional Indonesia.
Events
Jadwal YGF 31 Juli 2026 – 2 Agustus 2026
-
Tekno4 hari agoiPhone 18 Pro dan 18 Pro Max Resmi Dibundling IM3 Platinum Plus, Cicilan Mulai Rp499 Ribu
-
Otomotif5 hari agoCadangan Pertalite Turun ke 16 Hari, Ahli Dorong Penguatan Rantai Pasok BBM Nasional
-
Perbankan4 hari agoUang Jajan Cepat Habis? Ini 5 Tips Hemat Ala Gen Z Biar Dompet Tetap Aman
-
Tekno3 hari ago5 Tips Sukses Pakai Dating Apps bagi Perempuan di Atas 40 Tahun
-
Events2 hari ago
93,5% Rumah Tangga Sudah Punya HP, Apakah Program HP Gratis Bansos Masih Urgen?

