Events
Tiga Event Keren Bakal Ada di Jogja
www.ekbizz.com – Minggu ini dan minggu depan lebih tepatnya akan memiliki cukup event ikonik yang bisa Anda sambangi. Meski sudah masuk musim hujan, namun event ini tetap saja akan mengundang banyak pengunjung karena syarat dengan hiburan sekaligus sesuatu yang asik-asik. Berikut 3 event ekonik yang bisa Anda nikmati di Jogjakarta.
1. Ngayogjazz
Berasal dari peribahasa jawa “Wani Ngalah Luhur Wekasane” yang artinya siapa yang berani mengalah (bukan berarti kalah) akan mendapatkan kemenangan di kemudiannya. Tagline ini muncul melihat perkembangan dinamika bangsa ini yang makin banyak orang ingin menang sendiri dan membawa atau memaksakan kebenaran mereka sendiri tanpa bisa menerima pikiran dan pendapat orang lain. Dalam Ngayogjazz inilah diharapkan orang bisa sadar untuk mengalahkan ego mereka masing-masing melalui musik jazz.
Musik jazz yang bersifat individual tapi komunal mengajarkan berdemokrasi dalam bermain musik, di mana masing-masing pemain saling menghormati improvisasi dan permainan musisi yang lain, ada saling mengalah dan menghormati untuk menghasilkan harmonisasi yang serasi, sehingga menjadi “kemenangan” bersama. Wani Ngejazz Luhur Wekasane juga bisa diartikan : Siapa yang berani untuk mengapresiasi musik Jazz akan mendapat kemuliaan. Mengapresiasi di sini bukan hanya bermain musik jazz, tapi juga bisa mendengarkan, menonton, dan hadir di Ngayogjazz.
Ngayogjazz 2017 akan berlangsung pada Sabtu Pahing, 18 November 2017, Pukul 10.00 WIB – 22.00 WIB bertempat di Kledokan, Selomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman. Event ini akan berlasung dengan sejumlah konten asik yang bisa Anda ikuti seperti Panggung Permainan Musik Jazz, Pasar Jazz, Pameran Foto, dan Pentas Kesenian tradisional. Dipastikan akan hadir sejumlah musisi kenamaan seperti 1. Gugun Blues Shelter, Sri Hanuraga Trio Ft. Dira Sugandi, Bintang Indrianto – Gambang Suling, dan Endah N Rhesa. Tak hanya itu total pengisi acara pun bejibun yakni 38 pengisi acara.
2. Jogjakarta Vokswagen Festival (JVWF)
Event ini sangat ditunggu kehadirannya mengingat kegiatan ini berlangsung dalam 2 tahunan. Meski penyuka kendaraan ini spesifik, namun pecinta otomotif di Jogja cukup besar. Sumartoyo, Ketua Umum Volkswagen Club Yogyakarta (VCY) mengatakan kegiatan ini ditujukan untuk memamerkan jenis-jenis VW serta berupaya terus untuk melestarikan keberadaan VW di dunia dan Indonesia. Secara umum, perhelatan ini turut memberikan manfaat bidang pariwisata karena akan diikuti pecinta-pecinta VW baik dari dalam maupun luar negeri.
Tak hanya itui, pecinta VW juga akan mendapatakn lucky draw jika beruntung. Ada sebuah mobil VW yang dicustom selama 3 bulan di Jogjakarta. Project ini digawangi oleh Anton Sodewo dengan mengajak 10 orang lain di tim yang dikerjakan di beberapa tempat. “Menariknya, Velgyang kami pasang ini khusus kami pesan dari Inggris, jadi masih impor kita,” katanya semangat.
JVWF berlangsung pada 17-19 November 2017 di Jogja Expo Center. Rencananya akan hadir 2.000 mobil, termasuk 600 perwakilan luar negeri seperti Malaysia, Singapur, Thailand, Australia, AS dan Eropa. Tiket masuk sangat murah yakni hanya Rp 30 ribu saja.
3. Kulfest 2017
Kegiatan ini merupakan event perdana di Kabupaten Kulon Progo. Secara umum, event ini diinisiasi oleh Kabupaten Kulon Progo, bersama seniman Didik Nini Thowok dan PT Damar Nusantara Tama membuat event keren ini. Acara itu bakal diadakan selama tiga hari dari 24-26 November di Bendung Khayangan, Desa Pendoworejo, Girimulyo. Kulfest akan menghadirkan berbagai tim kesenian tradisional dalam dan luar negeri seperti Gending Sriwijaya (Palembang), Sanggar Seni Saba Sari (Bali), Joko Mursito (Kulon Progo), Shindu Raj (India), Akira Matsui (Jepang), Nafee Sasongkroh (Thailand), Liz Lea (Australia), dan masih banyak lagi.
Sementara dari grup band dan musisi kekinian juga akan hadir seperti Andien, Sheila On 7, Payung Teduh, Endank Soekamti, Mondo Gascaro, dan Gugun Blueshelter. Selain pagelaran tari dan musik, Kulfest juga diramaikan berbagai kegiatan fotografi, sinematografi, seni, kerajinan, serta olahraga.
Events
Dari Pasar Ngasem Sampai Prancis: YGF ke-31 Buktikan Gamelan Itu Bahasa Universal Generasi Masa Kini
Gamelan sering dianggap sebagai warisan leluhur yang kaku dan kuno. Tapi, Komunitas Gayam 16 bertekad membantah stigma itu lewat perhelatan tahunan mereka. Di usianya yang ke-31, Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang akan digelar 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 mendatang benar-benar dibalut dengan nuansa yang jauh dari kesan “museum”.
Mengusung tema “Sukacita” atau Joy, festival yang masuk dalam rangkaian Bulan Warisan Dunia DIY ini ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional ini punya sisi “vibe” yang menenangkan dan membahagiakan, bukan cuma sekadar alunan instrumen pengiring wayang.
“Kami ingin kasih lihat ke generasi sekarang, bahwa main gamelan itu bisa jadi healing,” ujar Ari Wulu, Ketua Komunitas Gayam 16, saat jumpa pers di Hotel Loman Yogyakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut Ari, gamelan punya kekuatan vibrasi yang bisa bikin pikiran adem. “Kami ingin menunjukkan bahwa kegembiraan bisa lahir dari proses memainkan, mendengarkan, dan mengeksplorasi gamelan bersama. Ini bukan euforia yang bingar, tapi sukacita yang muncul dari harmoni dan kebersamaan,” tambahnya.
Yang menarik dari edisi kali ini adalah adanya sesi spesial bernama “Gamelan untuk Meditasi”. Bayangkan, biasanya kita dengerin gamelan buat ngiringi tari atau wayang, tapi di sini kamu diajak merasakan getaran genderang dan saron sebagai media meditasi. Lokakarya ini bakal digelar pada 21-22 Juli di markas Komunitas Gayam 16 dan difasilitasi oleh Gatot Danar Sulistiyanto. Cocok banget buat kalian yang lagi capek sama hiruk-pikuk perkotaan dan butuh “me time”.
Konser di Pasar Ngasem: Kolaborasi Lokal sampai Mancanegara
Puncak festival yang paling ditunggu adalah konser besar di Plaza Pasar Ngasem, Yogyakarta, pada 31 Juli hingga 2 Agustus. Yang bikin keren, di panggung sana bakal ada sekitar 16 kelompok penampil. Bukan cuma dari Jogja atau Jawa, tapi ada juga perwakilan dari Banyuwangi, Cilacap, hingga Sampang Madura, bahkan grup dari Prancis dan Belanda bakal ikut nimbrung.
“Ini membuktikan gamelan adalah bahasa universal,” tegas Ari.
Gak cuma sekadar pentas, para pelaku seniman tradisi juga bakal duduk bareng dalam forum Rembug Budaya pada 27 Juli mendatang. Di era yang serba digital ini, mereka bakal bahas soal pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) biar para musisi tradisi gak kecolongan dan karyanya punya nilai ekonomi yang jelas.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, yang juga hadir dalam konferensi pers, memberikan apresiasi besar. Menurutnya, gamelan adalah living heritage atau warisan hidup.
“Harus terus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bisa beradaptasi dengan zaman. Kita support banget karena sepanjang sejarahnya, YGF ini sudah melibatkan partisipasi dari 52 negara,” ungkap Dian.
Dengan rangkaian acara yang menyegarkan ini, Komunitas Gayam 16 berharap anak-anak muda bisa mulai melihat gamelan sebagai ruang berekspresi yang kekinian. Jadi, siap-siap cobain vibe baru dari gamelan di bulan Juli ini?
Events
Media Lokal Didorong Adaptif Hadapi Transformasi Digital Tanpa Tinggalkan Etika Jurnalistik
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Arus berita yang bergerak sangat cepat menuntut media untuk mampu beradaptasi, namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip jurnalistik sebagai fondasi kepercayaan publik.
Sebagai upaya memperkuat daya saing media lokal di era digital, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) menggelar Workshop Media Lokal Berkelanjutan di Isvara Riverside, Sleman, Yogyakarta, Rabu (8/7/2026).
Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemenkomdigi, Farida Dewi Maharani, mengatakan kemajuan teknologi telah menggeser pola konsumsi informasi masyarakat. Kehadiran berbagai platform digital membuat siapa pun kini dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi.
Menurutnya, kondisi tersebut membawa tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu akurat sehingga masyarakat semakin sulit membedakan berita yang benar dengan hoaks. Karena itu, media dituntut tidak hanya cepat menyajikan informasi, tetapi juga memastikan setiap berita telah melalui proses verifikasi.
Farida menegaskan kepercayaan publik merupakan modal utama media. Di tengah algoritma platform digital yang cenderung mengutamakan konten sensasional, media harus tetap menjaga integritas dan profesionalisme agar loyalitas pembaca tetap terpelihara.
Ia juga melihat perubahan algoritma digital membuka peluang bagi media lokal karena konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat daerah kini semakin mendapat ruang. Keunggulan media lokal dalam memahami karakter, budaya, dan persoalan masyarakat dinilai menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan.
Pemerintah mendorong media lokal memperkuat kapasitas newsroom, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mengembangkan distribusi multiplatform, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh mengurangi nilai-nilai dasar jurnalistik. Media profesional tetap harus menjunjung Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, proses penyuntingan, dan tanggung jawab kepada publik.
Ia juga mengajak media mengembangkan jurnalisme yang tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi turut menghadirkan solusi serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap pemberitaan. Melalui workshop ini, diharapkan insan media semakin siap menghadapi tantangan era digital dengan meningkatkan kualitas jurnalistik, menjaga profesionalisme, serta memperkuat kepercayaan publik agar media lokal tetap berperan sebagai pilar demokrasi.
Events
Jamasan Pusaka Kyai Nolobondo Kembali Digelar di Kebondalem Prambanan
Sleman, 08 Juli 2026 – Masyarakat Dusun Kebondalem, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, kembali akan menyelenggarakan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo pada Selasa Pahing, 14 Juli 2026, bertempat di Pendopo Dukuh Kebondalem, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan budaya yang telah menjadi agenda masyarakat ini merupakan wujud pelestarian tradisi leluhur sekaligus penghormatan terhadap pusaka yang diyakini memiliki nilai sejarah dan filosofi bagi masyarakat Kebondalem. Prosesi jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka secara fisik, melainkan juga menjadi simbol penyucian diri, introspeksi, serta doa bersama dalam menyambut datangnya Tahun Baru Jawa, bulan Sura.
Acara ini terbuka bagi masyarakat dan para pecinta budaya yang ingin mengikuti prosesi jamasan. Panitia juga menyediakan layanan reservasi dengan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi pembersihan pusaka secara adat. Salah satu tim panitia, Dwi Eko Purnomo mengatakan bahwa kegiatan ini mampu menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai warisan leluhur.
“Tradisi jamasan bukan hanya merawat benda pusaka, tetapi juga merawat nilai-nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan menjaga identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.” jelasnya singkat.
Tradisi yang Sarat Makna
Dalam budaya Jawa, tradisi jamasan pusaka telah berlangsung selama ratusan tahun dan lazim dilaksanakan setiap bulan Sura. Kata jamas berarti memandikan atau membersihkan. Namun, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar membersihkan logam pusaka. Prosesi biasanya diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembersihan pusaka menggunakan air, jeruk nipis, air bunga, hingga pemberian minyak sebagai bagian dari perawatan. Tradisi ini menjadi simbol penyucian lahir dan batin serta ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Melestarikan Warisan Budaya Lokal
Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tutupan Suran Kyai Nolobondo di Dusun Kebondalem menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya lokal di wilayah Prambanan. Selain menjaga eksistensi pusaka yang diwariskan secara turun-temurun, kegiatan ini juga menjadi media mempererat silaturahmi antarwarga, pegiat budaya, dan pemerhati sejarah. Melalui penyelenggaraan rutin setiap tahun, masyarakat berharap tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman serta mampu menjadi daya tarik budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi lokal Sleman kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti prosesi jamasan, panitia menetapkan kontribusi ubarampe sebesar Rp50.000 per bilah pusaka. Kontribusi tersebut sudah mencakup seluruh fasilitas selama kegiatan, antara lain prosesi jamasan pusaka, jasa penjamas (tukang jamas) tanpa biaya tambahan, seluruh perlengkapan dan bahan jamasan, konsumsi makan dan minum, serta wedaran pamor dan pembahasan mengenai karakter, filosofi, serta perawatan pusaka yang disampaikan langsung oleh Empu Keris Yogyakarta. Dengan fasilitas tersebut, peserta tidak hanya memperoleh perawatan pusaka secara tradisional, tetapi juga kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap pusaka.


You must be logged in to post a comment Login